Jangan beri obat apa pun pada kucing yang sedang sakit sebelum ia diperiksa dokter hewan. Sisa antibiotik dari hewan lain, obat nyeri manusia, tetes herbal, minyak, jamu, sampai susu sapi hangat yang dituang dengan alasan "biar badannya anget" bukan lebih baik daripada tidak memberi apa pun. Semua itu mengubah kondisi kucing tepat pada jam-jam ketika dokter perlu melihatnya dalam keadaan aslinya, dan menghapus sebagian informasi yang paling dia butuhkan untuk menilai apa yang sedang terjadi.

Laci obat yang kebuka jam dua pagi
Lantai keramik dapur dingin di telapak kaki, lampu dapur menyala separuh, dan saya sudah berdiri di depan laci paling bawah. Isinya kotak plastik bening: strip amoksisilin sisa kucing saya yang dulu pernah diobati karena telinganya, blister parasetamol yang sudah bolong dua, botol kecil minyak kayu putih, kasa, plester. Di kompor, panci kecil berisi susu sapi, baru saja saya matikan apinya.
Anak kucing saya muntah dua kali dalam setengah jam. Yang pertama di lantai dekat pintu, yang kedua di kain sofa. Dia duduk membungkuk, tidak mau melihat saya.
Tangan saya sudah memegang strip amoksisilin itu. Saya sudah berpikir akan memotongnya kecil — sangat kecil, karena badannya kecil. Saya bahkan sempat membuka satu blister. Lalu saya berhenti, karena saya ingat sesuatu yang dulu pernah saya dengar dari dokter tempat saya biasa membawa kucing, kira-kira begini: kalau sudah ada yang masuk, yang saya baca besok bukan lagi kondisi kucingnya. Saya menutup laci, mengambil buku catatan, dan mulai menulis jam.
Ceritanya tidak selalu selesai rapi. Kucing yang beberapa tahun sebelumnya saya beri minyak dan susu hangat bukannya membaik; dia jadi diare, dan saya tetap harus ke klinik pagi itu juga dengan riwayat yang sudah tercampur. Yang kedua ini saya biarkan apa adanya, dan paginya dokter bisa langsung bekerja.
Kenapa "sesuatu" lebih buruk daripada "tidak ada"
Pemeriksaan dokter hewan itu membaca keadaan yang sedang berjalan. Suhu, warna gusi, bunyi napas, cara dia berdiri, bau napas, perut yang ditekan, seberapa cepat dia bereaksi — semuanya dibaca dari kondisi saat itu. Obat apa pun yang masuk beberapa jam sebelumnya menumpuk di atas bacaan itu. Ada dua kerugian sekaligus: zat yang mungkin memang merusak, dan gejala yang tertutup sehingga pola aslinya sulit dibaca lagi.
Obat nyeri manusia. Parasetamol, ibuprofen, aspirin, dan obat anti radang sejenisnya adalah kelompok yang paling sering ada di rumah dan paling sering disodorkan. Kucing memproses zat-zat ini lewat jalur hati yang jauh lebih lambat daripada manusia; parasetamol khususnya menumpuk pada kucing karena jalur pembuangannya tidak bekerja seperti pada kita. Serpihan tablet yang di mata kita terlihat seperti remah roti sudah menyebar ke seluruh darah anak kucing yang beratnya belum genap sekilo. Pertanyaan "berapa kecil yang masih aman" tidak punya jawaban yang bisa dipakai dari rumah, jadi cara paling aman adalah tidak menebak sama sekali. Dokter hewan pun menanganinya sebagai kejadian serius ketika zatnya sudah terlanjur masuk.
Antibiotik sisa. Ini punya dua sisi. Pertama, obatnya kemungkinan besar bukan untuk masalah yang sedang dihadapi sekarang; antibiotik dari kasus telinga belum tentu menyentuh kuman di saluran cerna, dan pemberian sebentar lalu berhenti justru melatih kuman jadi lebih tahan. Kedua, dan ini yang sering luput, catatan pengobatannya jadi rusak. Ketika saya bilang ke dokter bahwa anak kucing sudah diberi sesuatu selama dua hari, dokter itu kehilangan dasar untuk memilih obat berikutnya. Kalau yang diberikan salah, gejala yang dia lihat di pagi hari bisa jadi kekambuhan, bisa jadi efek obat pertama, bisa jadi tentang hal lain sama sekali. Pilihan obat kedua jadi lebih tumpul, padahal obat kedua itulah yang mungkin benar-benar dibutuhkan.
Tetes herbal, minyak, dan jamu. Diberikan dengan niat menghangatkan badan, meredakan masuk angin, atau membersihkan perut. Masalahnya, semua itu tidak diformulasi atau diuji untuk tubuh kucing, dan komposisinya sering tidak lengkap di label. Bahan seperti kamfer dan mentol pada minyak angin tidak diproses baik oleh kucing, dan kucing menjilat bulunya sendiri, jadi apa pun yang dioleskan akan ikut tertelan. Yang lebih halus tapi lebih merugikan: herbal bisa meredam gejala yang justru sedang dicari dokter. Anak kucing yang muntahnya berhenti setelah diberi sesuatu terlihat seperti membaik, padahal tandanya hilang — dan dokter yang memeriksa kehilangan catatan berapa kali dia muntah, cair atau tidak, dan setelah makan atau tidak.
Susu sapi hangat. Ini refleks yang paling sering terjadi di rumah dan paling sulit ditahan. Setelah disapih, kemampuan kucing mencerna laktosa turun tajam. Susu sapi hangat yang dituang ke mulut anak kucing yang sudah diare menambah beban ke usus yang sudah bermasalah: gas, perut kembung, dan diare yang makin cair. Setelah itu tidak ada lagi cara memisahkan mana yang datang dari sakitnya dan mana yang datang dari susu. Saya pernah melakukan ini, dan sesudahnya saya tidak bisa memastikan apa pun; saya hanya tahu keadaan kucingnya jadi lebih repot untuk ditebak.
Yang bisa dikerjakan sambil menunggu jam periksa
Bagian ini yang biasanya terasa sepi, karena tidak ada yang berbentuk tablet, tetes, atau gelas. Tapi inilah yang benar-benar dipakai dokter.
Jaga dia tetap hangat. Handuk bersih, alas kain di dalam kardus atau keranjang, jauh dari angin dan dari lantai yang dingin. Air minum tetap tersedia, jangan sampai kosong, walaupun dia belum mau menyentuhnya.
Tulis linimasa, bukan kesimpulan. Bukan "kayaknya dia kena sesuatu", tapi jam berapa kejadian pertama, berapa kali, keluarnya apa, apa yang dimakan terakhir dan jam berapa, kapan terakhir dia mau makan dan minum. Bagian ini yang paling sering membuat pemeriksaan jadi singkat dan tepat, karena satu pertanyaan dokter yang tidak bisa saya jawab berarti satu informasi yang hilang. Kalau ada yang aneh seperti jalan oleng atau napas pendek, rekam sekilas pakai HP; potongan rekaman itu lebih berguna daripada cerita panjang.
Simpan apa pun yang sudah terlanjur masuk, lengkap dengan kemasannya. Kalau sebelum sadar sudah memberi sesuatu, jangan disembunyikan dari dokter. Bawa kemasannya, catat jam dan perkiraan jumlahnya. Dokter tidak sedang menilai pemiliknya; dia sedang menyusun gambaran. Ada bahan di rumah yang efeknya baru muncul lama, misalnya minyak yang tertelan, dan itu lebih baik diketahui sebelum daripada sesudah.
Jangan pula memindahkan makanannya saat sedang sakit dengan niat menguatkan. Bukan karena makanan tertentu berbahaya, tapi karena setiap hal baru yang masuk menambah satu variabel ke dalam catatan yang sudah dibuat. Kalau dia masih mau makan, itu sudah informasi berharga — dan makanan yang biasa dia makan lebih mudah dibaca daripada yang baru.
Kapan berhenti menunggu
Ada titik ketika menunggu jadi pilihan yang salah, dan titik itu tidak pernah diselesaikan dengan membuka kotak obat lagi. Kalau dia sudah lemas sekali, napasnya cepat, kaki dan telinganya terasa dingin, kejang, atau gusinya pucat dan kebiruan, yang dibutuhkan bukan sesuatu yang dituang atau dimasukkan ke mulut, tapi perjalanan ke klinik sekarang, kalau perlu yang buka 24 jam. Mencari klinik terdekat sambil menelepon memang merepotkan, dan itu tetap jauh lebih berguna daripada satu dosis tebakan.
Satu hal yang perlu dibedakan: kalau dokter yang sudah memeriksa kucing ini memang memberi obat, tentu diberikan sesuai instruksinya. Yang dihindari di sini bukan obat dari dokter, melainkan keputusan yang saya ambil sendiri sebelum dokter melihat. Kalau saya mengirim pesan atau menelepon klinik dan mendapat instruksi, itu instruksi dokter dan saya ikuti. Kalau tidak ada yang menjawab sampai jam berapa pun, itu bukan izin untuk improvisasi.
Sekarang, kalau ada anak kucing di rumah yang mulai menunjukkan tanda tidak enak badan, yang saya pegang bukan kotak obat, tapi buku catatan dan handuk. Saya menutup laci dapur itu dan duduk di lantai menemaninya bernapas sampai jam buka. Duduk tanpa melakukan apa-apa adalah bagian yang paling sulit, dan itu satu-satunya hal yang membuat dokter bisa membaca kucing saya pagi itu.




