Steril adalah bagian dari tanggung jawab pemilik kucing yang peduli karena hanya keputusan itu yang menutup celah kehamilan tak terencana, sesuatu yang tidak bisa ditutup oleh kasih sayang, kandang, atau niat baik. Kucing tidak memilih berapa banyak anak yang lahir; pemilik yang menunda keputusan itu sebenarnya menyerahkan pilihan tersebut ke gang, pasar, dan jalan raya di sekitarnya.

Saya tahu itu bukan dari buku. Saya tahu dari suara anak kucing yang keluar dari bawah tumpukan kardus di depan warung dekat rumah, sekitar jam sebelas malam, ketika hujan baru berhenti dan air masih menetes dari ujung seng. Senter ponsel saya arahkan ke bawah: empat ekor, mata belum terbuka, badan bergetar. Induknya saya kenal, kucing betina berbulu kecokelatan yang dua tahun sebelumnya juga melahirkan di sudut yang sama.
Malam itu saya tidak melakukan hal yang heroik. Saya angkat kardusnya sedikit lebih tinggi supaya tidak terendam, saya taruh kain bekas di dalamnya, lalu saya pulang dengan perasaan yang tidak enak. Saya tahu minggu-minggu berikutnya akan berjalan seperti sebelumnya: dua atau tiga yang bertahan, sisanya hilang dan saya tidak pernah tahu ke mana.
Dari lima anak di kelahiran sebelumnya, yang sampai umur setahun tinggal dua. Bukan karena kurang makan, saya rutin menaruh makanan di titik itu. Yang menghabiskan sisanya adalah jalan, penyakit yang tidak sempat ditangani, dan tidak adanya rumah yang mau menerima. Malam itu saya sadar masalahnya bukan pada anak-anak kucing itu. Masalahnya ada pada keputusan yang tidak diambil setahun sebelum mereka lahir.
Kalau dihitung kasar, seekor kucing betina bisa kembali birahi dan hamil sementara anak sebelumnya masih menyusui. Dalam setahun, satu induk bisa beranak dua sampai tiga kali, dengan beberapa ekor tiap kali. Sebagian besar dari anak-anak itu tidak akan pernah punya rumah.
Malam ketika saya berhenti bilang "nanti dulu"
Saya sendiri sudah lama punya alasan. Kucing saya belum saya sterilkan waktu itu, dan alasan yang saya pakai selalu sama: nanti saja, kasihan, belum pernah punya anak. Alasan itu enak dipakai karena tidak ada yang menagih.
Yang menagih justru hal-hal kecil. Birahi pertamanya datang di umur sekitar delapan bulan. Suaranya panjang di malam hari, dia guling-guling di lantai, nafsu makannya turun, dan setiap kali pintu dibuka dia berusaha menyelipkan badan keluar. Terus terang, itu bukan pengalaman yang menyenangkan untuk saya maupun untuk dia, dan itu berulang setiap beberapa minggu. Saya telepon klinik, tanya apa saja yang perlu disiapkan, lalu membuat jadwal.
Yang saya lihat di ruang periksa
Saya datang pagi, kucing saya di dalam keranjang plastik dengan alas handuk. Dokter menimbangnya, menanyakan riwayat vaksin, umur, apakah pernah birahi, dan terakhir makan jam berapa. Saya diminta memuasakan makanan sekitar enam sampai delapan jam sebelum operasi, air masih boleh.
Operasinya tidak lama, kira-kira setengah jam sampai empat puluh lima menit. Saya menunggu di ruang depan, mendengar suara mesin, tidak mendengar suara kucing. Setelah itu dokter memanggil saya: kucing saya masih berbaring dengan mata setengah terbuka, perut bagian bawahnya dicukur, ada garis jahitan sepanjang beberapa sentimeter. Saya boleh pulang setelah dia bisa mengangkat kepala.
Malam pertamanya memang memprihatinkan. Dia lemas, jalannya sempoyongan, dan lebih banyak tidur. Tapi hari kedua dia sudah bangun menyambut saya, dan hari ketiga dia minta makan seperti biasa. Saya kurung dia di satu ruangan tanpa tempat tinggi selama beberapa hari pertama, dan saya pasang collar plastik supaya dia tidak menjilat jahitannya. Bagian itu yang paling dia benci, bukan operasinya. Kontrol seminggu kemudian, jahitannya sudah kering.
Yang saya takutkan tidak terjadi. Tidak ada perubahan kepribadian yang drastis. Yang hilang justru kebiasaan mengeong panjang di malam hari dan usaha keluar rumah.
Yang paling sering ditanyakan orang ke saya
Kalau saya menyebut steril, hampir selalu muncul kalimat yang sama: "Kasihan, belum pernah melahirkan." Saya mengerti, saya pernah ada di posisi itu. Tapi sekarang saya melihat kata kasihan itu salah alamat. Kasihan lebih pantas diarahkan ke anak kucing yang lahir tanpa rumah, yang nanti berdiri di pinggir jalan saat hujan, atau yang mati sebelum umur tiga bulan karena sakit yang tidak sempat ditangani.
"Nanti gendut" juga sering muncul, dan itu sebagian benar. Kucing steril cenderung makan lebih lahap dan bergerak lebih sedikit. Berat badannya naik kalau porsi tidak disesuaikan. Saya salah di sini di tahun pertama: porsi saya biarkan sama, dan berat badannya naik hampir setengah kilo dalam beberapa bulan. Setelah itu saya timbang berkala, atur porsi, dan tambah waktu main. Sekarang beratnya kembali stabil.
Soal kesehatan, saya tanyakan langsung ke dokter, bukan mencari sendiri di internet. Yang saya pegang dari penjelasan itu: steril di umur muda menurunkan risiko infeksi rahim dan beberapa jenis tumor kelenjar susu pada kucing betina. Saya tidak menghafal angkanya, tapi saya paham logikanya, dan itu cukup untuk membuat saya memutuskan.
Kucing indoor pun masih punya celah
Jendela tanpa kasa. Pintu yang terbuka waktu saya mengangkat galon. Kucing tetangga yang masuk lewat atap. Keluar lima menit sudah cukup. Saya pernah melihat sendiri kucing saya duduk tenang di pagar, dan di seberang jalan ada kucing jantan yang belum steril. Tidak ada yang dramatis, hanya dua kucing yang saling melihat. Tapi itu cukup, dan saya tidak selalu ada di rumah untuk mengawasi.
Steril menutup celah itu. Yang tidak ditutup steril adalah pintu, jendela, dan saya yang lupa menutupnya. Karena itu di rumah saya sekarang ada kasa di jendela, kalung bertuliskan nomor telepon, dan foto terbaru di ponsel kalau sewaktu-waktu dia lepas. Pengawasan, identifikasi, dan pengayaan seperti tempat tinggi, mainan, dan jadwal makan yang tetap, semuanya masih perlu. Steril bukan pengganti hal-hal itu.
Kucing yang tidak punya pemilik
Kucing jalanan di sekitar saya hidup di warung, pasar, gang, dan belakang tempat sampah. Ada jalur lain untuk mereka: sterilisasi kucing liar, yang sering disebut trap-neuter-return. Saya ikut beberapa kali di lingkungan saya. Caranya sederhana dan tidak nyaman: masuk kandang perangkap atau dijaring, dibawa ke klinik atau ke kegiatan steril massal, lalu setelah pulih dikembalikan ke titik asalnya. Telinganya biasanya dipotong sedikit supaya penjaring tidak menangkap kucing yang sama dua kali.
Hasilnya tidak instan. Kucing baru tetap bisa datang dari tempat lain, dan kalau pemberian makan tidak teratur, mereka berpindah. Yang saya lihat berubah adalah lajunya: dari yang tadinya setiap beberapa bulan ada anak kucing baru di titik makanan, jadi setahun sekali atau tidak sama sekali. Butuh beberapa tahun dan harus konsisten. Kalau berhenti di tengah jalan, jumlahnya naik lagi.
Kasih sayang tidak sama dengan keturunan
Saya sayang kucing saya. Saya suka melihatnya tidur di kursi, saya suka cara dia menagih makan jam lima pagi. Tidak ada satu bagian dari rasa sayang itu yang membutuhkan dia punya anak. Keturunan itu kebutuhan saya, bukan kebutuhannya. Dan kalau saya ikuti, yang lahir adalah kucing-kucing baru yang butuh rumah, sementara rumah itu tidak selalu ada.
Malam-malam di depan warung itu sekarang lebih tenang. Kadang masih ada kucing lewat, tapi bukan induk yang sama, dan tidak ada anak baru di bawah kardus. Saya tidak bisa membuktikan semuanya berkat steril, tapi angka di buku catatan saya berubah, dan itu cukup untuk membuat saya tidak menunda lagi.