Birahi pada kucing betina muda bukan peristiwa sekali lalu selesai. Siklusnya bisa kembali dalam hitungan minggu, dan pengulangan itulah bagian yang paling sering diabaikan: tubuhnya dipaksa masuk ke fase yang sama berulang-ulang tanpa pernah berakhir dengan kehamilan, dan setiap pengulangan menambah beban pada rahim sekaligus membuat perilakunya makin sulit ditenangkan. Karena itu waktu sterilisasi sebaiknya dibicarakan sejak birahi pertama muncul — bukan sebagai pilihan gaya hidup atau urusan bikin kucing lebih kalem, tapi karena setiap siklus yang terlewat punya konsekuensi yang menumpuk.
Malam pertama saya kira ada orang masuk
Suaranya datang dari bawah tempat tidur, sekitar pukul dua pagi. Panjang, rendah di awal lalu naik, seperti bayi menangis tapi ada getaran di ujungnya. Saya turun, cek pintu depan, cek jendela kamar, cek dapur. Semua terkunci. Ternyata kucing saya sendiri, saat itu belum genap enam bulan, duduk di sudut dengan punggung agak ditekuk dan ujung ekor bergerak ke samping.
Dia berguling-guling di lantai, menggosokkan pipi ke karpet, bangun, jalan dua langkah, berguling lagi. Saya angkat dia. Biasanya dia tenang kalau diangkat. Malam itu dia meronta, turun, lalu mengulang semuanya dari awal.
Besok paginya saya menulis di buku catatan: tanggal, jam suara pertama, jam dia tenang lagi, berapa yang dia makan, apakah buang airnya seperti biasa. Bukan karena saya orang yang rapi. Saya cuma tahu ini akan terjadi lagi, dan saya tidak mau mengandalkan ingatan waktu nanti ditanya dokter hewan.
Ini siklus, bukan fase sekali lewat
Birahi pertama kucing betina umumnya muncul di sekitar usia lima sampai enam bulan. Bisa lebih awal, bisa lebih lambat, tergantung berat badan dan kondisi tubuhnya. Yang tidak saya antisipasi bukan tanggalnya. Yang tidak saya antisipasi adalah bahwa beberapa minggu kemudian suara itu kembali. Lalu kembali lagi.
Di Indonesia, yang tidak punya musim dingin panjang seperti negara empat musim, jeda antar siklus pada kucing betina yang tidak hamil cenderung pendek. Jadi ini bukan sesuatu yang "nanti hilang sendiri". Siklusnya berulang, dan yang berubah cuma jarak antar kejadiannya.
Yang berubah dari perilakunya, bukan cuma suaranya
Malam-malam berikutnya saya mulai memperhatikan hal lain. Dia duduk lama di depan pintu yang tertutup. Dia mengikuti arah suara kucing jantan dari luar, kadang sampai berdiri dengan telinga ke depan. Dia mencakar kasa jendela yang biasanya tidak pernah dia sentuh. Ada malam dia menolak makan, ada malam dia makan seperti biasa — tidak konsisten, dan justru itu yang bikin saya susah menebak.
Yang paling perlu saya sadari bukan suaranya, tapi niatnya keluar. Kucing jantan dari rumah sebelah mulai datang. Satu, lalu dua, duduk di pagar belakang sekitar pukul tiga pagi. Saya baru sadar ada celah di bawah kasa dapur yang lebarnya mungkin empat senti. Untuk kucing betina yang sedang birahi, empat senti itu bukan penghalang, itu pintu.
Jadi kalau di rumah ada kucing betina muda, urusan mengunci pintu dan memeriksa kasa bukan tindakan berlebihan. Itu bagian dari menjaga, terlepas dari apakah sterilisasi nanti dilakukan atau tidak.
Yang terjadi di dalam tubuhnya
Sementara perilakunya terlihat jelas di luar, yang berubah di dalam jauh lebih sunyi. Setiap siklus, tubuhnya menyiapkan rahim untuk kemungkinan kehamilan. Kalau kehamilan tidak terjadi, lapisan itu harus dibongkar dan dibangun ulang. Kalau siklusnya datang lagi dan lagi dalam waktu singkat, kerja itu diulang terus tanpa jeda panjang.
Siklus yang berulang tanpa kehamilan dikaitkan dengan meningkatnya risiko pyometra, infeksi rahim yang harus ditangani dokter hewan dan waktunya sempit. Saya bukan dokter hewan dan saya tidak akan menebak-nebak gejala di sini. Yang saya pegang cuma satu: ini jenis hal yang dibawa ke klinik, bukan diamati di rumah sampai jelas sendiri.
Alasan kedua yang sering disebut soal waktu steril adalah tumor mammae. Sterilisasi sebelum birahi pertama dikaitkan dengan risiko tumor mammae seumur hidup yang lebih rendah dibanding sterilisasi setelah beberapa kali birahi. Ini bukan tombol on-off. Kucing yang steril setelah tiga kali birahi bukan berarti pasti kena, dan yang steril sebelum bukan berarti bebas sepenuhnya. Yang berubah adalah seberapa besar kemungkinannya — dan itu lebih mudah diputuskan di awal daripada setelah siklus kelima.
Kenapa waktu steril dibahas sejak birahi pertama
Sterilisasi pada kucing betina mengangkat rahim dan ovarium. Bukan penenang, bukan sekadar menghilangkan bau atau suara. Setelah itu tidak ada lagi siklus birahi. Karena itu pertanyaan sebenarnya bukan "kapan saya capek dengan suaranya", tapi "sebelum atau sesudah birahi pertama", dan dua-duanya punya alasan.
Sebelum: tidak ada satu pun siklus yang harus dilewati, dan risiko tumor mammae jangka panjangnya lebih rendah. Sesudah: kadang dokter hewan ingin memastikan berat badan dan kondisi umumnya cukup dulu, atau ada hal lain yang perlu dilihat sebelum tindakan.
Ini keputusan yang bergantung pada kucingnya, bukan pada aturan seragam. Berat badan, kesehatan umum, apakah di rumah ada kucing jantan utuh, apakah dia pernah punya akses ke luar rumah — semua itu masuk hitungan. Yang saya pelajari, dokter hewan lebih bisa menjawab kalau saya datang dengan data, bukan dengan kekhawatiran saja.
Yang saya bawa ke dokter hewan
Buku catatan, bukan cerita panjang. Tanggal birahi pertama, durasinya, jeda ke birahi kedua dan ketiga, berat badannya tiap bulan, catatan makan, catatan apa saja yang berubah dari biasanya. Dengan itu, percakapannya jadi soal kucing saya, bukan soal kucing pada umumnya.
Saya juga mencatat hal-hal yang kelihatannya sepele: apakah dia lebih sering minum, apakah dia menjilat area belakangnya lebih sering, apakah ada perubahan yang tidak wajar. Bukan untuk saya simpulkan sendiri. Untuk saya laporkan.
Yang paling sering kelewat
Ada satu hal yang baru benar-benar saya mengerti setelah menjalaninya. Menunda sterilisasi bukan berarti tidak mengambil keputusan. Kalau ada kucing jantan utuh yang punya akses, kehamilan bisa terjadi cepat, dan mengurus anak kucing bukan pekerjaan kecil: kandang, waktu, rumah yang harus siap, dan kucing betina muda yang harus melewati masa menyusui sebelum tubuhnya benar-benar dewasa.
Bagian tersulit dari birahi yang berulang, bagi saya, bukan suara tengah malamnya. Bagian tersulit adalah menyadari bahwa setiap pengulangan adalah keputusan yang sedang saya tunda, dan yang menundanya saya, bukan kucing saya.
Sekarang saya tetap mengamati dulu, mencatat, baru bertanya. Urutan itu tidak berubah, dan sampai sekarang itu cara yang paling sering menyelamatkan saya dari menebak-nebak.
