Menimbang anak kucing setiap tiga hari, dengan timbangan yang sama, di jam yang sama, dan beralas handuk yang sama, adalah cara paling murah untuk menangkap tanda bahaya lebih awal. Berat yang datar atau turun pelan biasanya muncul beberapa hari sebelum anak kucing terlihat lesu, berhenti makan, atau menunjukkan gejala yang bisa ditangkap mata. Angka di timbangan memberi peringatan lebih dulu; mata baru menyusul.

Sekarang ikut saya sebentar ke dapur, jam setengah enam pagi, lampu belum dinyalakan, langit di luar masih biru tua. Di lantai keramik sudah menunggu timbangan dapur digital, mangkuk plastik kecil, dan handuk tipis yang saya lipat dua. Saya buka kandang, angkat anak kucing yang masih setengah mengantuk, dan taruh dia di mangkuk. Dia menggeliat, mencakar udara, dan angka di layar melompat-lompat: 798, 812, 805. Saya tunggu. Lima detik, kadang sepuluh, sampai dia diam dan angkanya berhenti di 809. Saya tulis di buku tulis: 12 Mei, 05.40, 809.
Sendirian, angka itu tidak berarti apa-apa. Yang berarti adalah tiga baris terakhir kalau dibaca berurutan: 795, lalu 812, lalu 809. Kenaikannya melambat, lalu berhenti. Tidak ada yang salah dengan mata saya pagi itu. Anak kucingnya masih makan, masih mengejar tali sepatu, masih pipis normal. Kalau saya hanya mengandalkan mata, saya akan menunggu sampai ada yang jelas-jelas kelihatan. Buku tulis itu memberi saya sesuatu yang lebih berguna: kecurigaan yang datang lebih awal, saat keadaannya masih bisa ditanyakan dengan tenang.
Kenapa tiga hari, bukan setiap hari
Kalau Anda menimbang anak kucing setiap pagi, Anda akan panik setiap pagi. Isi perut, isi kandung kemih, dan jumlah air yang diminum bergeser dari hari ke hari, dan pada anak kucing yang beratnya belum satu kilo, ayunan kecil itu terasa besar. Selisih dua puluh gram pada tubuh 800 gram itu sekitar dua setengah persen. Menimbang tiap hari membuat Anda melihat riak; menimbang tiap tiga hari membuat Anda melihat arah.
Tiga hari juga cukup pendek untuk berguna. Kalau ada yang tidak beres, Anda masih punya jarak beberapa hari sebelum keadaannya terlihat oleh orang lain di rumah. Jarak itu yang saya cari, bukan angka hari ini.
Menimbang dengan cara yang bisa dibandingkan
Angka timbangan cuma berguna kalau bisa dibandingkan dengan angka sebelumnya. Ada tiga hal yang saya jaga tetap sama.
Alatnya. Satu timbangan, dipakai terus. Timbangan yang berbeda punya titik nol yang berbeda, dan kalau Anda pindah alat di tengah jalan, garis di buku Anda patah tanpa alasan. Yang perlu dipastikan cuma satu: alatnya mampu membaca perubahan kecil, karena selisih dua puluh gram di sini berarti. Timbangan diletakkan di permukaan keras dan datar, bukan di karpet atau meja yang goyang.
Jamnya. Saya timbang sebelum makanan pertama, saat perutnya sedang dalam kondisi paling mirip dengan hari-hari sebelumnya. Kalau Anda memilih jam lain, tidak masalah, asal konsisten. Yang penting posisinya sama dalam siklus harian, supaya bias yang sama terus terjadi dan bisa saling menghapus saat dibandingkan.
Alasnya. Handuk tipis yang sama, kering, dilipat dengan cara yang sama. Handuk yang baru dicuci dan handuk yang lembap beratnya beda, dan bedanya bisa puluhan gram. Kalau saya memakai wadah, saya timbang wadahnya sekali, catat angkanya, lalu kurangi setiap kali.
Sisanya soal kesabaran. Anak kucing harus diam dulu; kalau dia melompat-lompat, angkanya bukan berat dia, tapi berat dia ditambah gerakan. Tunggu, atau ulangi. Jangan menimbang tepat setelah bermain kencang atau tepat setelah makan besar.
Meraba, bukan melihat
Berat cuma satu dari dua alat ukur. Yang kedua ada di ujung jari Anda, dan ini yang sering dilewatkan orang karena bulu menutupi banyak hal.
Rabalah tulang rusuknya. Pada anak kucing yang kondisinya wajar, tulang rusuk terasa seperti punggung tangan Anda saat mengepal: terasa, tapi terlapisi. Kalau terasa seperti buku-buku jari yang menonjol tajam, itu terlalu kurus. Kalau sama sekali tidak ketemu meski ditekan pelan, itu terlalu penuh. Lalu telusuri tulang punggungnya dari leher ke ekor dengan dua jari. Ruas yang sehat tidak terasa seperti rangkaian manik yang tajam. Terakhir, raba dua titik tulang di pangkal ekor; kalau mencuat jelas, itu catatan tersendiri.
Perut yang buncit bisa menipu. Ada anak kucing yang terlihat gemuk dari atas padahal tulang rusuknya sudah menonjol. Sebaliknya, bulu tebal bisa menyembunyikan tubuh yang sudah terlalu tipis. Tangan lebih jujur daripada mata.
Angka sendirian tidak bercerita
Setiap baris di buku saya punya satu kalimat pendek di sebelah angkanya. Bukan kalimat panjang, cuma catatan yang membuat angka itu bisa ditafsirkan nanti.
Makan: habis atau tidak, dan kira-kira berapa lama. Aktivitas: apakah dia masih main seperti biasanya, atau lebih banyak tidur. Kotak pasir: berapa kali pipis, bentuk dan warna pup-nya. Kadang saya tambah satu hal yang terjadi hari itu, misalnya habis vaksin, baru ganti makanan, atau rumah sedang berisik karena ada tamu.
Perbedaannya terasa saat berat mulai datar. Anak kucing yang beratnya datar tapi makan lahap dan tetap aktif adalah pertanyaan yang berbeda dari anak kucing yang beratnya datar, makannya setengah, dan lebih banyak diam. Angkanya sama, ceritanya tidak. Tanpa catatan pendamping, saya cuma punya angka tanpa konteks, dan konteks itu yang nanti ditanyakan dokter hewan.
Catatan kecil juga menyelamatkan saya dari panik yang tidak perlu. Anak kucing yang baru divaksinasi bisa makan lebih sedikit sehari-dua hari, dan beratnya ikut melandai. Kalau saya tidak menuliskan bahwa vaksinnya kemarin, saya akan mengira ada yang serius padahal tidak.
Kapan saya berhenti menunggu
Saya bukan dokter hewan, dan buku tulis tidak pernah saya perlakukan seperti dokter. Buku itu cuma memberi tahu saya kapan harus bertanya. Untuk saya, pemicunya ada beberapa.
Dua penimbangan berturut-turut tanpa kenaikan, padahal anak kucing masih di fase tumbuh cepat. Penurunan berat, sekecil apa pun, apalagi kalau dibarengi perubahan nafsu makan, aktivitas, atau keluaran kotak pasir. Berat yang naik tapi anak kucingnya lesu, ini juga tanda tanya. Dan kalau ada muntah atau diare, saya tidak menunggu jadwal timbang berikutnya; itu urusan hari itu juga.
Saat menelepon atau datang, saya bawa bukunya. Tiga minggu angka yang tersusun rapi bisa dibaca dokter hewan dalam setengah menit, dan itu memotong banyak tebak-tebakan. Penyebab pertumbuhan yang melambat itu banyak, dari yang ringan sampai yang perlu diperiksa lebih lanjut, dan yang bisa memastikan hanya dokter hewan setelah memeriksa anak kucingnya, bukan setelah membaca angka di buku saya. Buku itu hanya memberi titik mulai.
Buku tulis biasa, tidak perlu yang mahal
Yang saya pakai buku tulis tipis, yang harganya tidak sampai harga satu kaleng makanan basah. Satu halaman untuk satu bulan. Empat kolom: tanggal, jam, berat, catatan. Selesai.
Kalau Anda lebih nyaman mencatat di ponsel, tidak ada bedanya. Yang penting bukan alatnya, tapi apakah catatannya bisa dibaca berurutan, bukan cuma hari ini. Catatan yang hanya ada di kepala akan hilang dalam dua minggu; saya sudah pernah mencobanya dan hasilnya saya cuma ingat angka terakhir.
Satu hal kecil yang menentukan apakah kebiasaan ini bertahan: taruh buku dan pena persis di sebelah timbangan. Kalau bukunya ada di laci kamar, dalam dua minggu saya berhenti mencatat, dan alasan berhentinya selalu terdengar masuk akal.
Sekarang, kalau saya membuka halaman 12 Mei dan melihat angka 809 di situ, saya tidak melihat angka. Saya melihat jarak tiga hari antara saat sesuatu mulai bergerak dan saat sesuatu itu mulai terlihat. Tidak setiap kali jarak itu berujung pada sesuatu yang serius. Beberapa kali hasilnya cuma perubahan kecil yang tidak berarti apa-apa, dan saya tetap tidak menyesal menelepon. Yang saya punya dari kebiasaan ini bukan diagnosis. Saya bukan dokter hewan. Yang saya punya adalah beberapa hari lebih awal untuk bertanya, dan itu selalu lebih baik daripada menunggu sampai keadaan yang memaksa.

