Anak kucing baru lahir yang butuh tindakan dalam hitungan jam hampir selalu menunjukkan tiga hal bersamaan: badannya terasa dingin saat disentuh, ia berhenti mau menyusu, dan ia lemas atau mengeong terus tanpa henti. Urutan tindakannya tetap: hangatkan dulu secara perlahan, jangan langsung mencoba menyusui, lalu hubungi dokter hewan hari itu juga. Anak kucing usia 0 sampai 4 minggu belum bisa mengatur suhu tubuhnya sendiri, dan begitu suhu badannya turun, sistem lain ikut melambat. Jendela waktunya menyempit dari jam ke jam, bukan dari hari ke hari.

Sekarang jam dua pagi, dan saya sedang menekan punggung anak kucing berumur tiga hari dengan dua jari. Yang saya cari bukan detak jantung, tapi hangat. Anak kucing yang sehat terasa hangat seperti baru keluar dari pengering. Kalau punggung dan kakinya terasa sejuk sampai ke telapak tangan saya, saya berhenti berpikir "nanti pagi". Saya mulai menghitung sudah berapa lama ia dingin.
Kotak di dekat tempat tidur itu isinya sederhana: handuk flanel, satu botol air hangat yang dibungkus sarung kain supaya tidak menyentuh kulit langsung, dan beberapa kain kering yang bisa saya tukar begitu yang lama lembap. Saya catat jamnya di belakang amplop. Bukan karena saya orang yang rapi, tapi karena pada usia segini saya tidak bisa mengandalkan ingatan.
Raba dulu: dingin, lemas, mengeong lemah, tidak mau menyusu
Hipotermia pada neonatus tidak datang dengan gejala dramatis. Tidak ada yang menggigil. Anak kucing di bawah empat minggu belum punya cadangan lemak dan belum bisa menggigil untuk menghasilkan panas, jadi yang terjadi justru sebaliknya: ia jadi diam. Yang saya raba dan lihat, biasanya muncul bertumpuk, bukan satu-satu:
- Telinga, kaki, dan perut terasa dingin, kadang lebih dingin dari suhu ruangan.
- Tubuhnya lemas seperti kain basah, bukan seperti anak kucing yang biasanya menempel dan meronta pelan.
- Suaranya tipis dan putus-putus, atau mengeong terus dengan nada tinggi yang tidak berhenti walau ia sudah saya pegang.
- Ia menolak puting, menjauhkan kepala, atau mengisap dua detik lalu berhenti.
Kalau tiga dari empat ini muncul bersamaan, saya berhenti menebak apa penyebabnya. Yang lebih dulu saya kerjakan cuma satu: menaikkan suhu badannya.
Satu angka yang saya pegang, yang dulu diberikan dokter hewan tempat saya biasa bertanya: pada minggu pertama, suhu rektal di bawah sekitar 36 derajat Celsius sudah masuk wilayah serius. Saya tidak memakai termometer ini untuk mendiagnosis apa pun. Saya memakainya untuk tahu seberapa cepat saya harus bergerak.
Hangatkan perlahan, jangan langsung disusui
Ini bagian yang paling sering salah, dan saya pernah melakukannya sendiri. Anak kucing yang dingin tidak boleh disusui dulu. Saat suhu tubuhnya turun, saluran pencernaannya ikut melambat, jadi susu yang masuk hanya mengendap di perut, tidak dicerna, dan risiko masuk ke saluran napas jadi nyata. Menghangatkan sambil menyusui juga membuat saya kehilangan jejak: saya tidak tahu mana yang benar-benar menolong dan mana yang cuma membuat saya merasa sudah berbuat sesuatu.
Yang saya lakukan: anak kucing masuk ke dalam kaus saya, langsung ke kulit dada, lalu saya tutup dengan kain. Kalau saya harus bergerak, ia pindah ke kotak bersama botol air hangat yang sudah dibungkus kain, dengan kain mengelilinginya. Sumber panas langsung tidak saya pakai sama sekali — hair dryer, lampu yang terlalu dekat, botol panas tanpa pembungkus. Panas yang naik terlalu cepat sama bahayanya dengan dingin, hanya saja lukanya baru kelihatan beberapa jam kemudian, dan saat itu saya sudah tidak bisa menyalahkan suhu ruangan.
Saya periksa tiap lima sampai sepuluh menit. Yang saya cari bukan angka, tapi perubahan: kaki mulai hangat, tubuh mulai menempel, suara mulai kuat. Kalau setelah satu jam hangatnya tidak naik sama sekali, itu bukan lagi urusan selimut tambahan. Itu urusan telepon.
Berat badan harian, bukan perasaan
Timbangan dapur digital di meja itu salah satu benda paling berguna yang saya punya untuk urusan ini. Saya timbang setiap pagi, jam yang sama, sebelum menyusu pertama, dengan kain tipis yang sama pula supaya angkanya tidak melompat karena serbet yang kebetulan lebih tebal.
Yang saya pantau arahnya, bukan angkanya. Anak kucing neonatus harus naik sedikit hampir setiap hari. Kalau beratnya jalan di tempat dua hari berturut-turut, atau turun, itu sudah cukup bagi saya untuk mengangkat telepon. Saya tidak menunggu sampai ia kelihatan kurus, karena pada usia ini kelihatan kurus berarti sudah lewat.
Stimulasi: pipis dan BAB tidak terjadi sendiri
Sampai sekitar usia tiga minggu, anak kucing belum bisa pipis dan BAB sendiri. Kalau tidak dibantu, kandung kemihnya bisa penuh dan itu bukan hal yang bisa ditunda sampai besok. Caranya: setelah tiap menyusu, kapas atau tisu lembut yang dibasahi air hangat, diusap pelan dengan gerakan melingkar di area kelamin dan dubur, beberapa detik, sampai keluar. Saya ulang sebentar kalau yang pertama belum menghasilkan apa-apa.
Yang keluar saya lihat. Warna dan konsistensinya saya bandingkan dengan hari sebelumnya. Diare pada neonatus bukan gangguan pencernaan biasa — tubuh sekecil itu kehilangan cairan dalam hitungan jam, dan anak kucing yang tadi masih mau menyusu bisa berhenti menyusu dalam satu siklus menyusu saja. Kalau yang keluar encer dan berbeda dari biasanya, saya tidak menunggu sampai muncul gejala lain.
Dehidrasi: cara saya memutuskan seberapa cepat harus menelepon
Saya bukan orang yang bisa menilai dehidrasi dari pandangan mata. Yang saya lakukan cuma beberapa hal sederhana, dan hasilnya saya pakai untuk memutuskan jam berapa saya menelepon, bukan untuk memutuskan sendiri apa yang harus diberikan:
- Kulit di tengkuk saya angkat pelan, lalu lepas. Kulit yang tidak segera kembali rata adalah tanda yang saya catat.
- Gusi saya sentuh dengan ujung jari. Kalau terasa kering dan lengket, itu catatan lain.
- Mata yang cekung dan kulit yang tetap kusam walau sudah dihangatkan.
- Berapa kali ia pipis sejak terakhir saya ganti kain. Kalau beberapa kali menyusu lewat tanpa pipis sama sekali, saya berhenti menunggu.
Semua ini saya kumpulkan jadi satu kalimat di telepon: umur, berat terakhir, sejak kapan dingin, terakhir pipis kapan, terakhir BAB kapan, dan seperti apa isi kainnya. Dokter hewan bisa bekerja jauh lebih cepat kalau saya tidak menjawab dengan "sepertinya sih biasa aja".
Yang membuat saya menelepon sekarang, bukan pagi
Ada beberapa hal yang tidak saya tunda sampai jam buka klinik:
- Diare, dalam bentuk apa pun.
- Mengeong terus yang tidak berhenti walau ia sudah hangat, sudah menyusu, dan sudah distimulasi. Kalau tiga kebutuhan itu sudah dipenuhi dan ia masih menangis, yang tersisa adalah sesuatu yang bukan tugas saya selesaikan sendiri.
- Tidak pipis setelah beberapa kali menyusu.
- Berat turun, atau tidak naik dua hari berturut-turut.
- Badan yang tetap dingin setelah dihangatkan lebih dari satu jam.
- Tidak mau menyusu lebih dari tiga sampai empat jam, atau mengisap tapi hasilnya tidak masuk.
Karena sebagian klinik di sekitar saya tidak buka 24 jam, nomor klinik yang buka sepanjang malam saya simpan di dua tempat: di ponsel dan di tempelan di pintu kulkas. Ini kelihatan berlebihan sampai jam dua pagi datang dan saya harus mencari nomor sambil menggendong sesuatu yang beratnya di bawah 120 gram.
Kalau induknya masih ada, tanda bahayanya berbeda artinya
Ini yang biasanya tidak dibahas, dan menurut saya justru yang paling menentukan cara membaca tanda di atas. Kalau induknya ada di rumah, saya memakai kacamata berbeda. Induk yang sehat hampir selalu menghangatkan, menjilati, dan menyusui. Anak kucing yang tetap dingin walaupun induknya ada biasanya berarti ada yang lebih serius: induk yang sakit, produksi susunya bermasalah, atau anak itu ditolak.
Sebaliknya, anak yatim jadi dingin karena sebab yang membosankan. Kotaknya terlalu besar sampai panas tubuhnya terbuang, kainnya lembap, ruangan ber-AC, atau malam hujan yang membuat lantai keramik terasa seperti es. Kadang cukup memperbaiki kotaknya dan menukar kain basah. Tapi kalau sudah saya perbaiki dan satu jam kemudian masih dingin, saya tidak melanjutkan tebak-tebakan.
Yang tidak saya lakukan lagi
Saya tidak memaksa menyusu ke anak kucing yang dingin. Saya tidak menunggu sampai pagi karena berharap keadaannya membaik sendiri. Saya tidak memanaskan dengan sumber panas kering yang menyentuh langsung. Dan saya tidak lagi menunda menimbang, karena berat badan adalah satu-satunya cara anak kucing memberi tahu saya bahwa ada sesuatu yang tidak beres sebelum ia terlihat sakit.
Pada akhirnya, urusan anak kucing neonatus bukan soal melakukan lebih banyak hal. Ini soal tidak kehilangan satu-dua jam, karena pada usia ini satu-dua jam itu sudah cukup untuk mengubah keadaan dari darurat menjadi terlambat.

