Gusi yang pucat sampai hampir putih, lemas yang tidak membaik setelah anak kucing beristirahat, kolaps, napas cepat, terlalu letih sampai tidak mau makan, caplak yang menempel banyak atau sudah lama menempel, dan garukan terus-menerus yang sudah meninggalkan luka terbuka atau berdarah — semuanya itu ambang darurat, bukan masalah yang diselesaikan di rumah. Kalau salah satunya muncul, yang dibutuhkan bukan menunggu sampai pagi atau mencari cara mengangkat parasit sendiri, tapi membawa anak kucing ke dokter hewan.

Lampu kamar saya masih kuning ketika ujung jari saya menyingkap bibir atas anak kucing itu. Badannya hangat, tipis, baru beberapa hari lepas dari induknya. Saya tekan gusinya pelan, lihat warnanya memudar di bawah jari, lalu saya hitung dalam hati berapa lama warna itu kembali. Tidak ada angka pasti di kepala saya saat itu — yang ada cuma perbandingan dengan gusi saya sendiri dan dengan gusi anak kucing yang saya periksa tiap malam di minggu sebelumnya. Sampai suatu hari warnanya terlihat seperti kertas yang kena air, dan sejak itu saya berhenti menganggap "nanti saja, kan dia masih mau makan" sebagai jawaban yang cukup.
Gusi lebih dulu, bulu belakangan
Kalau ada satu kebiasaan yang saya pertahankan sampai sekarang, itu memeriksa gusi sebelum menyentuh bulu. Duduk, anak kucing di pangkuan atau di lipatan handuk, angkat bibir atasnya pelan-pelan, lihat bagian gusi di atas gigi taring. Warnanya saya bandingkan dengan gusi saya sendiri — bukan dengan foto di internet. Saya lakukan di bawah lampu yang sama setiap kali, karena warna gusi berubah tergantung cahaya, dan perbandingan yang adil cuma bisa didapat kalau pencahayaannya konsisten.
Yang saya cari bukan cuma warnanya. Saya juga memperhatikan bagian dalam kelopak mata yang saya singkap sedikit, dan bagaimana anak kucing itu berdiri saat saya letakkan kembali di lantai. Kadang gusinya masih terlihat merah muda, tapi dia langsung berbaring lagi dan tidak menyahut saat saya geser mangkuknya. Dua hal itu saya catat terpisah, bukan digabung jadi satu kesimpulan. Saya bukan dokter hewan. Yang saya lakukan cuma mengumpulkan yang bisa dilihat, supaya kalau saya menelepon klinik, saya bicara dengan kalimat yang bisa dicek, bukan dengan perasaan.
Kenapa anak kucing jatuh lebih cepat
Ada alasan saya tidak pernah memakai ukuran kucing dewasa untuk menilai anak kucing. Tubuh anak kucing itu kecil, dan darah yang beredar di dalamnya sedikit. Kutu menghisap darah. Jumlah kutu yang di tubuh kucing dewasa cuma bikin bulunya kotor dan gatal, di tubuh anak kucing berarti kehilangan darah yang porsinya jauh lebih besar dibanding total darah yang dia punya. Jadi kutu yang "cuma segini" bisa berarti sesuatu yang berbeda sama sekali tergantung siapa yang ditempeli.
Saya berhenti di situ. Saya tidak mencoba menyimpulkan sendiri apa yang sedang terjadi di dalam tubuhnya, karena itu wilayah dokter. Yang saya pakai dari penjelasan itu cuma satu hal praktis: perubahan pada anak kucing bisa terlihat lambat berhari-hari, lalu tiba-tiba. Karena itu saya menimbang badannya, bukan cuma menilai dengan mata. Timbangan dapur yang saya pakai untuk menimbang kopi, saya pakai juga untuk menimbang anak kucing di dalam wadah plastik, tiap pagi sebelum makan. Angka yang turun dua hari berturut-turut membuat saya lebih waspada daripada wajah yang saya lihat tiap hari dan jadi terbiasa.
Caplak yang menempel lama dan yang menempel banyak
Caplak berbeda dari kutu dalam cara saya memperlakukannya. Kutu saya lihat sebagai masalah yang tersebar di bulu; caplak saya lihat sebagai sesuatu yang menempel di satu titik dan tinggal di sana. Kalau saya menemukan satu caplak yang badannya sudah menggelembung — bentuknya seperti kacang kecil yang penuh — artinya dia sudah menempel cukup lama, bukan baru naik. Kalau ada banyak yang menempel sekaligus, terutama di sekitar telinga, leher, sela kaki, atau di bawah dagu, saya tidak mencoba menghitung sampai berapa dan tidak mengutak-atiknya sendiri. Saya tutup bagian itu dengan ringan, dan menelepon.
Ada satu hal lagi yang membuat saya tidak mau menunggu. Di beberapa daerah, ada kondisi langka yang dikaitkan dengan caplak, di mana anak kucing tiba-tiba lemas atau jalannya jadi tidak stabil, seperti kehilangan keseimbangan di kaki belakang. Saya tidak tahu apakah kasus yang saya hadapi itu atau bukan, dan memang bukan tugas saya untuk tahu. Yang saya tahu, kalau kelemahan atau gangguan jalan muncul setelah ada caplak, itu bukan bahan untuk diamati sampai besok. Begitu juga caplak yang menempel di satu titik dan bagian sekitarnya terlihat bengkak, merah, atau mengeluarkan cairan.
Garukan yang bukan lagi sekadar garukan
Garukan itu wajar. Yang tidak wajar adalah garukan yang tidak berhenti, yang membuat anak kucing tidak bisa tidur, dan yang sudah meninggalkan bekas. Rambut yang rontok membentuk bercak, kerak yang menebal, luka yang mengeluarkan cairan, atau kulit yang terasa lebih hangat dari bagian lain — itu bukan lagi urusan sampo atau sisir.
Saya pernah menganggap garukan sebagai satu masalah. Sekarang saya melihatnya sebagai dua. Yang pertama, ketidaknyamanan yang membuat anak kucing kehilangan waktu makan dan waktu tidur. Yang kedua, luka yang dia buat sendiri dan bisa terinfeksi. Yang kedua inilah yang membuat saya berhenti menunda, karena luka terbuka di kulit anak kucing bisa berubah lebih cepat daripada yang saya kira, dan saya tidak bisa menilai sendiri sedalam apa infeksinya.
Malam ketika saya memilih menelepon
Kejadian yang membuat saya punya aturan tetap terjadi malam hari. Anak kucing saya menolak makan kedua kalinya, lalu muntah, lalu fesesnya encer. Dia bukan cuma lesu, tapi tidak bangun saat saya buka kaleng makanannya — suara yang biasanya selalu membuatnya bergerak. Saya tidak menunggu sampai pagi. Saya menelepon klinik dan menyebutkan hal-hal yang bisa mereka tanyakan balik: kapan terakhir makan, berapa kali muntah, bagaimana bentuk fesesnya, apakah masih mau minum, apakah gusinya saya lihat lebih pucat dari biasanya, dan bagaimana dia berjalan saat dipanggil.
Kalau ada satu pola yang saya pegang dari malam itu: keadaan darurat bukan soal memberantas semua parasit di rumah. Bukan soal memastikan bulunya bersih malam ini. Yang anak kucing butuhkan dalam kondisi seperti itu adalah distabilkan dan diperiksa oleh orang yang punya alat dan kewenangan. Sisa kutu yang masih ada besok pagi tidak ada artinya kalau kondisinya sudah turun malam ini.
Yang saya catat tiap hari, dan batasnya
Selama tahun pertama, catatan harian saya isinya cuma lima hal: berat badan, warna gusi, nafsu makan, tingkat aktivitas, dan berapa banyak yang saya temukan di sisir kutu. Sisirnya saya tarik beberapa kali di punggung dan sekitar ekor, saya tepuk di atas tisu putih, dan saya lihat apa yang jatuh. Bintik hitam kecil yang setelah dibasahi berubah jadi kecokelatan itu saya perlakukan sebagai petunjuk, bukan kesimpulan. Saya tidak memakainya untuk memutuskan apa yang terjadi pada anak kucing saya. Saya memakainya untuk tahu arah: masalahnya membesar atau menyusut, dan itu yang saya bawa saat saya bertanya.
Catatan ini punya batas yang saya sadari betul. Warnanya bisa menipu karena cahaya ruangan. Nafsu makan bisa turun karena cuaca atau karena saya baru mengganti merek makanan. Berat badan bisa naik-turun satu-dua gram karena waktu menimbang yang tidak sama. Karena itu saya tidak pernah menjadikan catatan sebagai pengganti pemeriksaan. Kalau saya ragu — dan saya lebih sering ragu daripada yakin — saya menelepon dan bertanya apakah perlu datang. Pertanyaan itu sendiri tidak memalukan, dan beberapa kali jawabannya memang "tidak perlu", tapi beberapa kali juga jawabannya justru "bawa sekarang".
Yang tidak saya kerjakan sendiri
Tidak ada bagian dari urusan kutu dan caplak yang saya selesaikan dengan cara yang saya karang sendiri. Saya tidak mengoleskan apa pun, tidak menuangkan cairan apa pun ke bulunya, tidak mencabut caplak yang sudah menggelembung dengan tangan kosong, dan tidak menutup luka bekas garukan dengan ramuan apa pun. Alasan paling jujurnya bukan karena saya yakin semua cara itu berbahaya, tapi karena saya tidak punya cara untuk tahu mana yang berbahaya untuk anak kucing sebesar itu. Kulit anak kucing tipis, tubuhnya kecil, dan apa pun yang saya taruh di atasnya masuk ke dalam hitungan yang bukan hitungan saya.
Yang saya pelajari dari tahun pertama itu sederhana sekali: anak kucing tidak punya cadangan. Kucing dewasa bisa terlihat biasa saja selama beberapa hari walau ada masalah; anak kucing tidak. Jadi ambang saya bukan "seberapa parah", tapi "apakah ada satu saja dari daftar itu". Gusi pucat, lemas berat, kolaps, napas cepat, tidak mau makan, muntah atau diare yang berulang, caplak banyak atau menempel lama, garukan yang sudah jadi luka. Kalau ada satu, saya tidak menghitung lagi. Saya sudah di jalan.