Anak kucing yang buang air di luar kotak pasir hampir tidak pernah sedang membalas dendam. Urutan penyebabnya biasanya begini: kotak pasirnya kotor atau baru dipindah, jumlah atau ukurannya tidak cocok, pasirnya baru diganti jenisnya, atau si anak kucing sedang stres karena ada yang berubah di rumah. Yang perlu diwaspadai justru kelompok kedua: kalau dia mengejan, menangis saat kencing, bolak-balik ke kotak tapi yang keluar cuma sedikit, ada darah, atau tiba-tiba lemas, itu bukan lagi soal latihan dan harus segera dibawa ke dokter hewan.
Pukul lima pagi saya berdiri di kamar mandi dengan senter HP menyala, menunduk ke lantai keramik yang masih setengah basah. Bukan genangan besar, cuma bercak selebar telapak tangan, tapi letaknya persis di depan pintu, dua jengkal dari bak pasir. Kucing saya yang masih sekitar empat bulan duduk di ambang pintu, ekornya menutup badan, matanya mengikuti saya. Saya jongkok, dekatkan hidung. Kalau baunya menyengat dan menyebar, saya biasanya langsung curiga ada yang tidak beres dengan saluran kemihnya. Kalau baunya ringan, seperti pasir yang baru kena air, saya lebih curiga ini soal kotaknya.
Itu urutan pertama yang saya pakai. Bukan menyalahkan kucingnya dulu, tapi memeriksa barang-barangnya.
Yang saya periksa lebih dulu, sebelum menyalahkan kucingnya
Kotak pasir itu benda mati, dan justru itu enaknya: dia bisa diperiksa tanpa menunggu.
Kotak, tempat, dan pasirnya
Saya mulai dari pasirnya. Saya gali pakai sekop kecil sampai dasar. Kalau yang terangkat sudah menggumpal keras dan menempel di dinding bak, berarti sudah lewat batas. Saya punya kebiasaan mengangkat gumpalan dua kali sehari dan mengganti total sekitar seminggu sekali, tapi begitu kucingnya masih kecil dan sering pipis, itu bisa jadi terlalu jarang. Anak kucing kadang menolak masuk kalau dasar baknya terasa tidak nyaman di telapak kaki.
Lalu ukurannya. Bak yang saya beli pertama kali ternyata terlalu tinggi dindingnya. Kucing kecil harus melompat untuk masuk, dan kalau ada satu kali saja dia merasa tidak bisa keluar cepat, dia bisa kapok. Saya ganti dengan bak bertepi rendah, dan saya buka tutupnya karena versi tertutup membuat dia seperti masuk ke dalam kotak gelap tanpa jalan keluar kedua. Setelah itu, kejadiannya berhenti selama beberapa minggu.
Tempatnya juga saya pindahkan. Sebelumnya bak itu saya taruh di sudut dekat mesin cuci, yang kalau menyala bergetar dan berisik. Sekarang dia ada di sudut lain kamar mandi, jauh dari pintu yang sering dilewati orang, tapi tetap kelihatan dari ruang tengah supaya saya bisa mengintip dari jauh.
Soal pasir, saya pernah ganti merek karena yang biasa kosong di toko. Wanginya lebih tajam, butirannya lebih halus dan menempel di kaki. Dua hari setelah itu, lantai mulai kotor lagi. Saya kembalikan ke jenis yang sama seperti sebelumnya, dan berhenti. Sejak itu, kalau mau coba pasir lain, saya campur dulu sebagian di satu sudut, bukan mengganti semuanya sekaligus.
Stres yang tidak kelihatan seperti stres
Yang ini lebih sulit karena tidak ada yang bisa saya gali dengan sekop. Anak kucing bisa stres karena pindah rumah, karena suara renovasi di sebelah, karena hujan deras yang menghantam seng, karena jadwal saya berubah dan dia makan lebih telat, atau karena ada tamu yang menginap. Saya pernah mengalami masa dia kencing di kasur tepat setelah saya mulai pulang kerja lebih malam. Tidak ada yang salah dengan baknya; yang berubah cuma rumahnya.
Kalau ada lebih dari satu kucing, saya menghitung ulang baknya. Aturan yang saya pegang: satu kucing satu bak, ditambah satu. Dua bak di ruangan berbeda juga membantu kucing kecil yang sedang dijegal kucing dewasa di lorong, karena dia tidak perlu melewati siapa pun untuk pipis. Pernah kejadian, bak kedua saya letakkan di kamar belakang, dan masalahnya hilang dalam dua hari. Kucing itu bukan menandai wilayah, dia cuma sedang tidak bisa lewat.
Satu lagi yang sering terlewat: kalau ada kucing lain diam-diam menunggu di dekat bak, kucing kecil bisa merasa terjebak saat sedang jongkok. Posisi bak di ruangan terbuka tapi dengan satu jalur keluar saja itu rawan. Saya biasanya memindahkan bak ke tempat yang punya dua sisi terbuka.
Tanda yang membuat saya berhenti melatih dan menelepon klinik
Di sini garis pemisahnya.
Kalau kucingnya jongkok lama, badan menegang, lalu bangun tanpa hasil, atau hasilnya cuma beberapa tetes, saya berhenti mengurus pasir. Kalau dia mengejar-ngejar saya sambil mengeong dengan suara yang tidak biasa, atau saya dengar dia mengeluarkan suara saat kencing, itu juga berhenti. Kalau ada bercak darah, atau warnanya tidak seperti biasanya, berhenti. Kalau dia bolak-balik ke bak dalam waktu singkat, lima, enam kali dalam sejam, berhenti. Dan kalau dia yang biasanya lari ke pintu setiap kali saya masuk tiba-tiba tidur terus dan tidak tertarik makan, itu paling cepat.
Yang saya lakukan bukan menebak. Saya catat: jam kejadian, di mana, bagaimana posisi dia waktu jongkok, apakah ada suara, berapa kali dalam sehari, bagaimana bentuk dan warna yang keluar. Catatan itu saya bawa ke dokter hewan. Menebak sendiri di rumah, apalagi memberi apa pun tanpa arahan, hanya menambah waktu yang terbuang.
Saya juga belajar membedakan dua hal yang mirip. Kucing yang takut biasanya jongkok cepat lalu lari, seolah dikejar sesuatu. Kucing yang kesakitan biasanya jongkok lebih lama dari normal dan tidak rileks. Dua hal itu butuh penanganan yang berbeda, dan saya tidak bisa memastikan sendiri yang mana.
Membersihkan bekasnya, dan kenapa sabun biasa tidak cukup
Ini bagian yang paling sering saya lihat diabaikan.
Lantai saya pel dengan air dan sabun cuci piring. Setelah kering, dari hidung manusia baunya hilang. Tapi beberapa hari kemudian, di titik yang sama, ada bercak lagi. Ternyata sisa senyawa dalam urine bisa tetap menempel di keramik, di sela nat, dan di kain, dan hidung kucing jauh lebih tajam daripada hidung saya. Selama baunya masih terbaca sebagai "ini tempat pipis", dia akan kembali ke situ.
Sejak itu saya pakai pembersih enzimatik khusus. Caranya: angkat dulu cairannya dengan tisu atau kain, jangan digosok supaya tidak menyebar ke area lebih luas, lalu tuang pembersihnya sampai meresap, diamkan sesuai petunjuk di kemasan, baru dilap. Untuk kasur atau sofa, saya rendam bagian yang terkena dan biarkan kering sendiri, bukan dijemur sebentar lalu dipakai lagi.
Kalau bekasnya ada di karpet tebal atau kasur, kadang lapisan dalamnya tidak bisa dijangkau sama sekali. Saya pernah memilih membuang bantal kecil daripada terus mengulang kejadian yang sama. Itu keputusan yang tidak enak, tapi lebih cepat selesai.
Kenapa memarahi justru memperburuk
Saya pernah melakukannya. Saya angkat kucingnya, saya dekatkan ke bercak, saya bentak. Yang saya dapat cuma satu kucing yang menghindari saya selama dua hari, dan seminggu kemudian ada bercak baru di belakang lemari, tempat yang jauh lebih sulit saya temukan.
Itu masuk akal kalau dipikir. Kucing kecil tidak menghubungkan hukuman dengan kejadian satu menit sebelumnya. Yang dia hubungkan adalah: saya pipis, lalu manusia datang dan saya ketakutan. Hasilnya bukan berhenti pipis, tapi pipis di tempat yang tidak terlihat, atau menahan sampai tidak tahan lagi. Dua-duanya memperburuk keadaan.
Yang saya lakukan sekarang kalau menemukan bercak: bersihkan tanpa suara, tanpa mengangkat kucingnya, lalu periksa ulang daftar tadi. Baknya, tempatnya, pasirnya, ada apa yang berubah minggu ini.
Yang membuat saya akhirnya mencatat
Saya bukan orang yang rajin menulis. Tapi untuk hal ini, catatan sederhana di HP benar-benar menolong. Isinya cuma tanggal, jam, tempat, dan satu baris catatan: apakah dia sempat masuk bak sebelum kejadian, apakah pasirnya baru diganti, apakah ada suara berisik hari itu.
Manfaatnya terasa waktu saya harus ke dokter hewan. Saya tidak perlu mengira-ngira lagi apakah ini sudah terjadi tiga hari atau tiga minggu, apakah volume yang keluar makin sedikit, atau apakah kejadiannya selalu di jam yang sama. Dokter bisa bekerja dari pola, bukan dari ingatan saya yang kabur.
Dan yang paling saya pelajari dari semua ini: kejadian di luar bak itu bukan pesan tersembunyi tentang perasaan kucing saya terhadap saya. Itu informasi. Kadang informasinya soal bak yang perlu dibersihkan, kadang soal rumah yang sedang berisik, kadang soal sesuatu di dalam tubuhnya yang hanya bisa dipastikan oleh orang yang memeriksanya langsung. Tugas saya cuma yang pertama dan kedua. Untuk yang ketiga, saya angkat telepon.

