Anak kucing yang menolak kotak pasir hampir selalu bukan anak kucing yang nakal, dan juga bukan anak kucing yang belum diajari. Yang bermasalah biasanya bendanya: kotak yang terlalu tinggi untuk dilangkahi, terlalu sempit untuk berputar, pasir yang terlalu dalam atau berbau wangi, atau kotak yang diletakkan di tempat ramai. Urutan perbaikannya hampir selalu sama. Benahi kotak dan pasirnya dulu, taruh di sudut sepi, lalu bikin ritual mengantar anak kucing ke situ setelah makan, setelah tidur, dan setelah main. Selama tiga hal itu konsisten, sebagian besar anak kucing akan memakai kotaknya sendiri dalam beberapa hari. Kalau setelah itu masih ada pipis di lantai, yang perlu dibaca bukan kenakalan, tapi apa yang berubah sejak terakhir kali semuanya normal.

Jam sebelas malam, saya duduk di ubin kamar mandi dengan punggung menempel dinding. Di depan saya, anak kucing berumur tujuh minggu itu mengendus lantai, lalu menggaruk keramik dengan kaki depan seperti sedang menggali. Bukan sekali. Dua kali, tiga kali, di titik yang sama, di dekat pintu. Anda akan melihat hal yang sama kalau duduk di situ: badan merendah, ekor sedikit naik, mata melihat ke bawah, dan lantai digaruk-garuk. Saya sudah menyiapkan kotak pasir lima langkah dari situ. Dia tidak meliriknya.
Yang saya ubah malam itu bukan anak kucingnya. Kotaknya.
Kotak yang salah membuat anak kucing kalah sebelum mulai
Kotak pertama yang saya beli punya dinding setinggi pergelangan tangan orang dewasa. Buat saya itu rendah. Buat anak kucing tujuh minggu, itu pagar. Anak kucing kecil lebih memilih menahan daripada melompati sesuatu yang tidak dia percayai, dan pilihan itu berakhir di lantai.
Yang akhirnya bekerja: kotak dangkal dengan satu sisi masuk yang benar-benar rendah, lebarnya cukup untuk dia berputar tanpa pantatnya menyentuh dinding. Cara cepat mengeceknya, masukkan anak kucing ke dalam tanpa pasir. Kalau dia bisa berbalik badan tanpa terhimpit, ukurannya cukup. Kalau dia harus mundur, kekecilan. Dan tidak bertutup. Kotak bertutup mengumpulkan bau di dalam, dan anak kucing yang tidak bisa mengawasi sekelilingnya sering memilih tidak masuk sama sekali.
Pasirnya juga saya ganti. Yang berbau wangi, yang wanginya terasa sampai tenggorokan saya sendiri, itu yang paling sering saya temui jadi biang penolakan. Anak kucing mengenali dunianya lewat hidung, dan pasir berparfum menyamarkan bau yang justru membuatnya tahu ini tempat yang benar. Saya pakai pasir tanpa wangi, kedalamannya sekitar dua sampai tiga senti untuk anak kucing. Cukup untuk digaruk, tidak sampai menenggelamkan kaki kecilnya. Kalau dia menggaruk tapi tidak pernah menggali lebih dalam, biasanya pasirnya terlalu tebal.
Soal posisi, ini bagian yang sering diremehkan. Kotak pasir bukan hiasan. Jauhkan dari mangkuk makan dan minum, jauh dari mesin cuci, dispenser air, dan pintu yang dibuka-tutup sepanjang hari. Di banyak rumah di sini, pojok kamar mandi yang tidak dilewati orang, atau sudut dekat area jemuran di belakang, bekerja jauh lebih baik daripada sudut ruang tamu yang terlihat rapi. Anak kucing butuh merasa tidak ada yang mengintai saat dia sedang tidak bisa membela diri.
Yang sebenarnya Anda lakukan adalah mengantar, bukan melatih
Naluri menggali dan mengubur itu sudah ada. Saya tidak pernah mengajari anak kucing cara menggali. Yang saya lakukan cuma memastikan dia ada di atas pasir pada saat naluri itu muncul.
Waktunya bisa diprediksi. Setelah makan, biasanya sepuluh sampai tiga puluh menit kemudian. Setelah bangun tidur. Setelah main kencang sampai napasnya berat. Tiga jendela itu, setiap hari, tanpa kecuali di minggu pertama.
Caranya sederhana dan sengaja saya buat membosankan. Letakkan dia di dalam kotak, biarkan kakinya menyentuh pasir, garuk sedikit pasir dengan ujung jari Anda, lalu diam. Jangan ditahan. Jangan diajak bicara panjang. Jangan dipuji dengan suara tinggi kalau dia berhasil, cukup biarkan dia selesai dan berjalan keluar sendiri. Kalau dia langsung melompat keluar, jangan dipaksa balik. Sepuluh atau lima belas menit lagi, antar lagi. Yang penting dia tidak pernah punya pengalaman buruk di dalam kotak itu.
Satu hal yang saya harap tidak pernah Anda lakukan: menahan anak kucing di dalam kotak sampai dia pipis. Itu mengubah kotak pasir dari tempat yang netral jadi tempat yang menakutkan, dan sekali rusak, pemulihannya jauh lebih lama daripada membangunnya dari awal. Jangan juga menaruh mainan di dalam kotak, atau mengajak dia bermain di situ. Kotak pasir harus punya satu fungsi saja.
Hari-hari pertama: satu ruangan dulu, bukan seluruh rumah
Anak kucing yang baru datang tidak sedang butuh kebebasan. Dia butuh ruang yang bisa dia hafal.
Saya mulai dari satu kamar kecil, atau kandang yang cukup luas untuk bergerak, dengan kotak pasir di dalamnya, beberapa langkah dari tempat tidurnya. Alasannya bukan soal disiplin. Anak kucing yang sedang asyik main di ujung rumah sering tidak menyadari sinyal tubuhnya sendiri sampai terlambat, dan dia belum hafal jalan pulang. Kalau kotaknya ada di ruangan yang sama, dia belajar bahwa rasa mau pipis dan kotak pasir adalah satu paket yang jaraknya pendek.
Ruangnya saya perluas pelan-pelan, dan tidak berdasarkan kalender. Satu tambahan ruangan setiap kali sudah sekitar seminggu tanpa kejadian di luar kotak. Kalau ada satu kejadian, saya tarik lagi ke ruang sebelumnya selama beberapa hari. Ini lambat, dan saya tahu rasanya ingin cepat. Tapi memperluas ruangan terlalu cepat adalah penyebab kejadian di luar kotak yang paling sering saya alami sendiri, dan yang paling mudah dihindari.
Kalau di hari-hari pertama tetap ada yang meleset, jangan dimarahi. Jangan tekan hidungnya ke bekasnya. Jangan angkat dan lempar ke kotak sambil bersuara keras. Hukuman tidak mengajarkan anak kucing ke mana harus pipis; dia cuma belajar bahwa pipis itu berbahaya, dan tempat paling aman untuk melakukannya adalah bawah kasur atau belakang lemari. Ambil kotoran padatnya, taruh di kotak pasir, biarkan dia mencium baunya. Bersihkan bekasnya sampai baunya benar-benar hilang, karena selama baunya masih tercium, lantai itu akan tetap jadi pilihan pertama.
Kalau masalahnya muncul setelah semuanya sempat lancar
Ini yang paling sering bikin orang bingung, dan ini juga yang paling sering saya alami. Anak kucing sudah rapi berminggu-minggu, lalu tiba-tiba pipis di depan pintu. Kejadian tunggal tidak berarti apa-apa. Yang berarti adalah perubahan.
Yang saya periksa berurutan:
- Terakhir kapan kotaknya dibersihkan. Anak kucing jauh lebih pemilih soal kebersihan daripada yang orang sangka. Ada yang tidak mau memakai kotak yang sudah ada satu kotoran di dalamnya.
- Apakah jenis pasirnya baru diganti dalam beberapa hari terakhir. Perpindahan jenis pasir sebaiknya dicampur, bukan diganti total dalam sehari.
- Apakah posisi kotaknya berubah, atau ada barang baru di dekatnya.
- Apakah kotaknya jadi terasa sempit. Di tahun pertama, anak kucing tumbuh cepat, dan kotak yang cukup di umur dua bulan bisa terasa sesak di umur empat bulan.
- Apakah ada yang berubah di rumah: tamu, suara baru, pindah kamar, anak kucing atau kucing lain yang datang.
- Apakah makanannya berganti.
Satu lagi yang sering terlewat: kalau anak kucing pernah kaget saat berada di kotaknya, dia bisa menghindari kotak itu berhari-hari. Mesin cuci yang menyala tiba-tiba, kotak yang tergeser, suara keras dari luar. Solusinya bukan memaksa dia kembali ke kotak itu, tapi menyediakan kotak kedua di lokasi lain dan membiarkan dia memilih. Setelah beberapa minggu, biasanya dia kembali sendiri.
Kalau ada lebih dari satu anak kucing, jumlahnya bukan satu
Aturannya: satu kotak untuk setiap anak kucing, ditambah satu lagi, dan diletakkan di lokasi yang terpisah. Bukan berdampingan. Bukan dua kotak yang disandarkan ke dinding yang sama.
Alasannya bukan soal kebersihan. Kotak pasir itu wilayah. Kalau dua kotak berdempetan, anak kucing yang lebih kecil atau lebih baru bisa dihadang di jalan masuknya, dan dia akan memilih sudut ruangan daripada berkelahi atau lewat. Saya pernah melihat dua anak kucing berbagi satu kotak tanpa masalah selama berminggu-minggu, lalu yang satunya mulai pipis di dekat pintu. Bukan karena dia tidak tahu di mana kotaknya. Dia tahu persis. Dia cuma tidak berani lewat.
Satu baris catatan sehari, lima detik, dan itu cukup
Saya mencatat hal-hal kecil, dan saya lakukan bukan karena rajin, tapi karena ingatan saya buruk. Satu baris sehari: berapa kali pipis, apakah bab, bentuknya bagaimana, apakah ada yang di luar kotak, dan apa yang berubah hari itu.
Kenapa repot-repot? Karena satu kali meleset tidak bisa dibaca apa-apa. Tiga hari berturut-turut jumlah pipisnya turun, atau dia mulai keluar-masuk kotak berkali-kali dengan hasil sedikit, itu cerita yang berbeda sama sekali. Tanpa catatan, saya hanya punya perasaan bahwa ada yang aneh, dan itu tidak cukup untuk memutuskan apa pun.
Catatan ini juga yang saya bawa saat memeriksakan kucing. Bukan tebakan saya. Tanggal, jam, dan apa yang berubah.
Yang perlu berhenti dilatih dan mulai ditanyakan ke dokter hewan
Ada titik di mana menambah latihan justru merugikan, karena masalahnya bukan kebiasaan.
Kalau anak kucing mengejan lama tanpa hasil, menangis atau mengeong saat berada di kotak, keluar-masuk kotak berkali-kali tapi yang keluar hanya sedikit atau tidak ada sama sekali, ada darah di pasir atau di sekitar alat kelaminnya, atau dia menjilati area bawahnya terus-menerus, itu bukan urusan pelatihan. Begitu juga kalau dia tidak pipis sama sekali sejak malam sebelumnya, atau ada kejadian di luar kotak yang datang bersama diare, muntah, atau badan yang lemas.
Pada titik itu saya berhenti mengubah kotak, berhenti mengganti pasir, berhenti menambah latihan, dan menelepon. Saya bukan dokter hewan, dan tidak ada penyesuaian kotak pasir yang bisa menyelesaikan hal seperti itu. Yang bisa saya lakukan cuma memperhatikan lebih awal, mencatat dengan rapi, dan tidak membuang waktu.
Setelah semua yang saya lalui dengan anak kucing pertama, yang membuat saya tenang bukan anak kucing yang jadi penurut. Yang membuat saya tenang adalah saya tahu kapan harus berhenti menebak dan mulai bertanya.
