Anak kucing menggigit kabel bukan karena rasanya enak, melainkan karena pada jam-jam tertentu tidak ada hal lain yang lebih menarik untuk dikejar, digigit, dan dikunyah. Karena itu, cara yang paling berpengaruh untuk membuatnya berpaling adalah membangun rutinitas pengayaan harian yang mengisi jam-jam rawan itu dan menutup rangkaian berburunya sampai tuntas, sambil tetap merapikan kabel sebagai lapisan pengaman. Pengayaan tidak menggantikan manajemen kabel, dan manajemen kabel sendirian biasanya cuma memindahkan titik gigitan ke sudut rumah yang belum sempat diperiksa.

Lampu ruang tengah masih menyala jam sembilan malam, kipas angin di sudut berdengung, televisi menyala tanpa suara. Saya duduk bersila di lantai keramik, memegang batang mainan dengan sepotong bulu di ujungnya, dan menyeretnya pelan-pelan melewati kaki kursi. Anak kucing itu menunduk, pantatnya bergoyang dua kali, lalu menerkam. Satu detik sebelum menerkam, matanya sempat melirik ke kabel charger yang menggantung dari colokan di dinding setinggi lutut. Lirikan itu yang saya tunggu setiap malam. Kalau mainan bergeraknya cukup meyakinkan, lirikan itu berhenti di situ. Kalau tidak, tubuhnya berbalik ke dinding, dan gigitan pertama biasanya berbunyi kecil, seperti kertas sobek.
Saya bukan orang yang langsung percaya penjelasan di internet. Yang saya percaya adalah buku tulis yang saya pakai mencatat jam, lalu saya cocokkan dengan apa yang terjadi di lantai. Dari catatan itulah rutinitas ini terbentuk, bukan dari daftar tips.
Jam rawan yang muncul di catatan saya
Minggu pertama saya cuma menulis jam dan lokasi. Hasilnya cukup jelas setelah lima hari: serangan ke kabel menumpuk di tiga waktu. Pagi sekitar pukul lima setengah sampai enam, tepat setelah ia bangun dan seluruh rumah masih gelap. Sore sekitar pukul empat sampai lima, setelah tidur panjang siang. Dan malam sekitar pukul sembilan, satu jam sebelum kami berangkat tidur.
Di luar tiga jendela waktu itu, kabel hampir tidak pernah disentuh. Artinya yang saya hadapi bukan kabel yang menarik, tapi slot waktu yang kosong. Kabel charger yang menjuntai, kabel kipas yang lembek, kabel lampu meja, semuanya cuma jadi sasaran pertama karena bentuknya tipis, lentur, dan bergerak sedikit saat tersentuh. Anak kucing mengejar benda seperti itu karena naluri berburunya sedang menyala, bukan karena sedang lapar perangkat elektronik.
Satu hal lagi yang saya sadari: mainan yang dibiarkan tergeletak di lantai sepanjang hari cepat kehilangan daya tariknya. Setelah dua hari, bola itu jadi perabot. Kabel, yang muncul-hilang dan bergoyang, justru tetap terasa baru.
Menutup rangkaian berburu, bukan cuma melempar bola
Yang benar-benar mengubah kebiasaan gigitnya bukan jumlah mainan, tapi urutan bermainnya. Anak kucing berburu dalam rangkaian: mengintai, merayap, menerkam, menangkap, lalu makan. Kalau rangkaian itu berhenti di tengah, energinya belum habis dan mulutnya masih ingin bekerja.
Jadi saya main dengan urutan itu. Batang mainan saya seret pelan di lantai seperti mangsa yang tidak sadar, saya sembunyikan di balik kaki lemari, saya diamkan tiga detik, lalu sentak cepat ke arah lain. Setelah beberapa kali gagal menerkam, saya biarkan dia benar-benar menangkap ujungnya, saya tahan sebentar supaya terasa seperti hasil tangkapan, baru sesi selesai. Sepuluh sampai lima belas menit cukup. Lebih dari itu, dia mulai bosan dan beralih ke apa pun yang bergerak, termasuk kabel.
Lalu langsung saya beri makan. Ini bagian yang paling sering dilewatkan orang: sesi berburu yang ditutup dengan makan membuat dorongan itu selesai. Anak kucing yang baru selesai makan biasanya menjilat bulunya dan tidur, bukan mencari sasaran pengganti. Kalau saya main lalu menunda makannya satu jam, saya sendiri yang menyalakan kembali masalahnya.
Dua sesi sehari sudah cukup untuk rumah saya: satu pagi sebelum saya mulai beraktivitas, satu malam sebelum tidur. Sesi malam yang paling terasa dampaknya, karena di jam itulah rumah sunyi dan tidak ada suara lain yang bisa mengalihkan perhatiannya.
Memutar mainan, bukan menumpuk semuanya
Saya menyimpan sebagian besar mainan di dalam kotak tertutup. Yang ada di lantai hanya tiga atau empat buah, dan setiap tiga atau empat hari saya tukar isinya. Bukan karena mainannya rusak, tapi karena yang lama jadi tidak menarik lagi begitu bukan barang baru. Batang bulu saya simpan setelah dipakai, justru supaya besok masih dianggap mangsa dan bukan perabot.
Saat saya sibuk: pekerjaan kecil untuk kepalanya
Jam kerja adalah lubang terbesar dalam rutinitas ini. Saya tidak bisa main dua puluh menit setiap kali dia bangun. Untuk jam-jam itu, saya menaruh sebagian jatah makannya di wadah yang harus dia bongkar sendiri, jadi dia mengeluarkan kibble satu per satu dengan kaki dan hidungnya. Ini bukan olahraga, tapi cukup mengisi kepala dan mulutnya selama saya di depan layar. Wadah seperti itu tetap harus diawasi, terutama kalau anak kucingnya masih kecil dan gampang frustrasi lalu meninggalkannya.
Masa giginya juga ikut menentukan. Di sekitar usia tiga sampai lima bulan, gigi susunya tanggal dan gigi permanen tumbuh, dan ada hari-hari ketika mulutnya jelas tidak nyaman. Pada hari seperti itu saya menyediakan kain katun tebal yang bersih dan sudah didinginkan di kulkas, selalu dengan pengawasan, dan langsung saya ganti kalau sudah sobek. Yang tidak saya berikan: tulang ayam, karet keras, tali rafia, dan potongan kabel yang sudah pernah digigit. Serpihan benda seperti itu bisa tertelan dan itu urusan yang jauh lebih mahal daripada mengganti kabel.
Anak kucing butuh ketinggian, bukan cuma lantai
Salah satu perubahan paling murah di rumah saya adalah memindahkan titik istirahatnya. Rak dinding yang kokoh dan tempat duduk dekat jendela memberi tempat mengamati yang jauh dari jangkauan kabel. Dari jendela itu ada cicak di dinding, serangga di lampu teras, daun yang bergerak. Semua itu hiburan yang berjalan sendiri tanpa saya harus hadir.
Efeknya bukan langsung terlihat di hari pertama. Tapi setelah beberapa minggu, tempat favoritnya berpindah dari sudut meja televisi ke dekat jendela, dan sudut meja televisi itu juga tempat kabel-kabel berkumpul. Pastikan raknya benar-benar kuat dan tidak ada benda berat yang bisa jatuh, karena anak kucing yang sedang mengejar sesuatu tidak menghitung risiko.
Yang saya hentikan: memarahi dan menyemprot
Awalnya saya sempat membentak dan menyemprot dengan air. Kelihatannya berhasil karena dia langsung pergi. Yang sebenarnya terjadi: dia belajar menggigit hanya saat saya tidak ada, dan mulai menghindar kalau saya masuk ruangan. Masalahnya tidak berkurang, cuma jadi tidak kelihatan, dan itu jauh lebih sulit diperbaiki.
Kalau saya memergokinya sedang menggigit kabel, saya tidak menghukum. Saya angkat dan pindahkan ke mainan yang sedang bergerak, atau saya lempar mainan itu menjauh supaya dia mengejar. Cara ini hanya bekerja kalau mainan itu memang sudah punya nilai di matanya, dan nilai itu dibangun dari rutinitas harian yang saya jalankan sebelumnya.
Kabel tetap harus diamankan, ini bukan pilihan
Saya tidak mau menipu diri sendiri di bagian ini. Pengayaan mengurangi dorongan, tapi tidak menutup kemungkinan sepenuhnya. Anak kucing yang sedang tumbuh gigi, atau yang sendirian di rumah delapan jam, tetap bisa menggigit kabel walau rutinitasnya sudah bagus.
Jadi kabel-kabel di rumah saya tetap dirapikan. Kabel yang menggantung di colokan saya cabut kalau tidak dipakai, kabel yang menempel di dinding saya masukkan ke pelindung spiral atau casing plastik, dan yang bisa disembunyikan di balik lemari saya sembunyikan. Colokan yang tidak terpakai saya tutup. Ini pekerjaan sekali jalan, dan hasilnya bertahan jauh lebih lama daripada waktu yang saya habiskan untuk memarahi kucing.
Kalau masih juga digigit
Kalau anak kucing Anda sudah punya rutinitas main yang teratur, kabel sudah dirapikan, tapi gigitan tetap sering dan disertai benda lain yang dimakan, itu bukan lagi soal mainan kurang banyak. Saya akan mencatat dulu: jamnya, apa yang digigit, apakah potongannya tertelan, dan bagaimana nafsu makannya. Catatan itu saya bawa ke dokter hewan, karena ada hal-hal seperti masalah gigi, gangguan pencernaan, atau kebutuhan kalori yang belum tercukupi yang tidak bisa saya nilai sendiri dari lantai ruang tengah.
Yang akhirnya bertahan di rumah saya bukan satu trik, tapi dua hal yang berjalan bersama: jam main yang mengikuti urutan berburu dan ditutup dengan makan, plus kabel yang benar-benar tidak menarik untuk digigit. Kalau salah satu hilang, yang satunya biasanya mulai bocor. Sekarang, jam sembilan malam, saya masih duduk di lantai yang sama. Bedanya, kabel di dinding sudah tidak pernah saya lihat bergoyang lagi.

