Makanan anak kucing bukan satu produk yang dipilih sekali lalu dipakai sampai usianya setahun; ia target yang bergerak. Dari sekitar empat minggu sampai dua belas bulan, kebutuhannya berubah mengikuti tahap: pengganti susu di minggu-minggu paling awal, makanan pertumbuhan yang teksturnya dilunakkan saat penyapihan antara empat dan delapan minggu, lalu makanan berlabel growth sampai kira-kira dua belas bulan, dan baru setelah itu makanan pemeliharaan dewasa — yang bukan versi lebih sedikit dari makanan anak kucing, karena target nutrisinya memang berbeda. Yang menentukan apakah makanan yang sedang diberikan sudah tepat bukan merek di kemasannya, melainkan dua hal yang bisa diukur di rumah: berat badan mingguan dan kondisi tubuh. Mangkuk yang licin hanya memberi tahu bahwa anak kucing itu lapar, bukan bahwa kebutuhannya sudah terpenuhi.

Saya belajar itu dari sebuah timbangan dapur.
Malam itu anak kucing kami berumur lima minggu, dan saya duduk bersila di lantai dapur dengan baskom plastik kecil di atas timbangan digital. Angkanya berkedip: 512 gram. Saya tulis di buku tulis bergaris — tanggal, angka, lalu satu kalimat pendek soal tekstur makanannya malam itu. Buku itu awalnya cuma iseng, karena saya tidak percaya pada ingatan sendiri. Ternyata justru dari situ saya bisa melihat kapan makanan yang saya berikan bekerja dan kapan tidak.
Kenapa saya menimbang, bukan menakar
Menakar itu gampang: sekian sendok, sekian kali sehari, selesai. Masalahnya takaran yang sama bisa berarti sangat berbeda untuk dua anak kucing dari induk yang sama, apalagi untuk anak kucing yang baru dipisah dari induknya dan masih stres. Jadi saya pegang aturan sederhana: timbang seminggu sekali, jam yang sama, sebelum makan pagi, dengan timbangan yang sama. Anak kucing yang tumbuh akan menggambar garis yang naik di buku itu. Kalau angkanya berhenti naik dua minggu berturut-turut, saya tidak langsung ganti makanan. Saya buka buku, lihat tekstur beberapa hari terakhir, lihat jumlah pup dan pipis, lalu telepon dokter hewan dengan angka di tangan.
Yang membuat cara ini berguna bukan angkanya, tapi urutannya. Satu angka tidak berarti apa-apa. Dua tiga angka berurutan mulai bercerita.
Empat minggu pertama: yang masuk bukan "makanan"
Kalau anak kucing masih bersama induknya, tahap ini hampir tidak perlu saya urus. Yang perlu saya pastikan cuma satu: induknya makan dengan benar, karena semua yang masuk ke anak kucing lewat dia. Baru kalau anak kucing yatim atau ditolak induknya, pengganti susu khusus anak kucing masuk hitungan — bukan susu sapi, bukan susu kucing dewasa.
Di minggu-minggu ini frekuensinya sering dan porsinya kecil, dihangatkan secukupnya, dan posisinya penting: tengkurap seperti sedang menyusu, bukan telentang. Buku catatan saya di fase ini lebih banyak kolom pup dan pipis daripada kolom makanan. Yang menentukan bukan berapa banyak yang masuk, tapi berapa banyak yang keluar dan apakah beratnya naik. Setiap hari, bukan setiap minggu.
Empat sampai delapan minggu: tekstur berubah lebih cepat daripada porsi
Penyapihan. Pengganti susu dicampur makanan basah berlabel growth yang dihaluskan, dihangatkan sedikit, ditaruh di piring ceper — anak kucing belum paham mangkuk tinggi karena hidungnya masih sejajar lantai. Teksturnya mulai seperti bubur kental, lalu saya biarkan makin kasar tiap dua sampai tiga hari. Yang berubah sebenarnya bukan cuma tekstur, tapi cara makan: dari menjilat jadi menggigit, dari menggigit jadi mengunyah.
Di minggu-minggu ini porsi hampir tidak bisa jadi patokan, karena sebagian besar anak kucing masih menyusu induknya. Yang saya pantau cuma tiga: berat naik, pup berbentuk, dan anak kucing mendekat sendiri ke piring tanpa dipaksa. Kalau teksturnya saya ubah terlalu cepat, yang muncul bukan penolakan — biasanya justru pup yang lembek. Itu cara mereka bilang "perlahan sedikit".
Dua sampai enam bulan: masa porsi naik paling cepat
Ini periode yang paling cepat berubah, dan periode di mana orang paling sering salah membaca. Anak kucing yang minggu lalu 500 gram bisa berlipat dalam hitungan minggu. Frekuensi makannya masih tiga sampai empat kali sehari untuk yang kecil, perlahan turun jadi tiga kali. Makanannya tetap yang berlabel growth — bukan makanan dewasa dengan porsi lebih banyak.
Di sini saya berhenti melihat mangkuk dan mulai melihat tubuh. Tulang rusuk harus terasa saat dielus, bukan harus ditekan. Dari atas, ada lekukan pinggang yang kelihatan. Dari samping, perut naik sedikit ke arah belakang. Kalau tulang rusuk tidak terasa sama sekali, itu bukan alasan ganti merek — itu alasan saya melihat kembali porsi dan seberapa banyak ia bergerak hari itu.
Dan sebaliknya, anak kucing yang kurus bukan otomatis butuh makanan yang lebih "mahal". Kadang ia cuma butuh lebih sering makan, atau teksturnya diubah supaya lebih mudah masuk.
Enam sampai dua belas bulan: pertumbuhan melambat, porsi ikut turun
Badan memanjang, tapi porsi per kilogram justru turun dibanding bulan-bulan sebelumnya. Frekuensi makan menyusut jadi dua sampai tiga kali sehari, lalu dua kali saat usianya mendekati setahun. Di fase ini saya sudah punya cukup titik data sehingga perubahan 100 gram tidak langsung saya anggap masalah. Saya butuh dua tiga penimbangan sebelum menyimpulkan apa pun.
Kalau nanti ia disteril, kebutuhan energinya biasanya berubah, dan itu bahan pembicaraan dengan dokter hewan, bukan sesuatu yang saya putuskan sendiri dari gambar di kemasan.
Tekstur menentukan asupan air, dan itu jarang dicatat orang
Makanan basah menyumbang air; makanan kering membuat kucing minum lebih banyak. Cara saya memantau bukan dari berapa kali ia mendatangi mangkuk air — saya sering tidak ada di rumah. Saya menghitung gumpalan di kotak pasir keesokan paginya. Kalau jumlahnya turun jelas padahal cuaca tidak berubah, berarti ada yang bergeser, dan sering kali penyebabnya tekstur makanan yang saya ubah beberapa hari sebelumnya.
Karena itu air minum selalu saya taruh jauh dari mangkuk makanan dan diganti dua kali sehari. Dan kalau saya mengubah tekstur, saya tunggu beberapa hari sebelum menyimpulkan apa pun.
Cara memindahkan makanan tanpa drama
Transisinya bukan sekali tukar. Saya sisipkan makanan baru sedikit ke makanan lama, lalu tambah proporsinya sedikit demi sedikit selama beberapa hari. Di rumah ini biasanya butuh sekitar lima sampai tujuh hari, tergantung seberapa sensitif perutnya. Kalau pup jadi lembek, saya mundur satu langkah dan bertahan di takaran sebelumnya sehari lebih lama. Kalau muntah atau lemas, saya berhenti mengubah apa pun.
Digestion anak kucing menyesuaikan diri dalam hitungan hari, bukan jam. Ini alasan kenapa catatan tekstur sama pentingnya dengan catatan berat.
Yang saya berhenti catat
Merek. Awalnya saya tulis lengkap, lengkap dengan nama variannya. Setelah beberapa bulan saya sadar kolom itu tidak pernah saya buka lagi. Yang saya pakai sampai sekarang: berat, tekstur, jumlah makan, jumlah gumpalan pup dan pipis, plus satu kalimat bebas soal perilakunya hari itu. Kolom terakhir itu yang paling sering menjelaskan sesuatu yang tidak ditangkap angka.
Kapan berhenti mengubah makanan dan pergi ke dokter hewan
Kalau anak kucing tidak mau makan lebih dari sehari, muntah berulang, diare yang tidak berhenti, atau tiba-tiba lemas, itu bukan soal pilihan makanan. Mengganti merek justru membuat masalahnya makin sulit dibaca. Yang saya lakukan: bawa ke dokter hewan, bawa bukunya. Catatan berat dan tekstur selama beberapa minggu adalah hal paling berguna yang bisa saya laporkan, karena dokter bisa melihat kapan sesuatu mulai berubah, bukan cuma apa yang terlihat hari itu.
Mengurus makanan anak kucing sampai usia setahun akhirnya bukan soal menemukan satu produk yang tepat. Makanannya bergerak terus, dan tugas kita mengikutinya dengan alat yang sederhana: timbangan, buku tulis, dan kebiasaan mengamati sebelum menyimpulkan.

