Berat dan kondisi tubuh anak kucing bisa dibaca normal atau tidak lewat tiga hal yang harus berjalan bersamaan: timbangan yang sama di jam yang sama, tangan yang meraba tulang rusuk dan pinggang tepat setelah menimbang, dan catatan yang menuliskan berat serta kondisi berdampingan. Angka tunggal di timbangan hampir tidak memberi kabar apa-apa; yang bicara adalah arah garisnya selama beberapa minggu. Begitu garis itu mulai mendatar menjelang usia setahun, itu bukan tanda pertumbuhan gagal, itu tanda tubuhnya sedang menuju ukuran dewasa.
Minggu pagi, setengah enam, saya jongkok di lantai dapur. Timbangan kue digital saya taruh di ubin, bukan di keset, dan di atasnya ada keranjang plastik kecil berlapis kain bekas yang biasa dipakai kucing saya tidur. Anak kucing saya waktu itu berumur empat bulan; dia masuk ke keranjang dengan setengah mengantuk karena belum sarapan, dan angka di layar berhenti di berat yang hampir sama dengan minggu sebelumnya. Saya buka buku tulis kecil dari laci dekat kompor, tulis tanggalnya, tulis angkanya, lalu meraba rusuknya sebentar sebelum buku itu ditutup. Dua baris itu, angka dan rabaan, yang nanti saya bawa ke dokter hewan kalau ada apa-apa.
Alas dan jam harus sama, bukan karena gaya-gayaan
Timbangan yang sama di alas yang berbeda bisa memberi selisih yang cukup untuk membuat kesimpulan saya keliru. Di ubin keras, angka bertahan di tempatnya. Di keset atau karpet, salah satu kaki timbangan tenggelam sedikit, dan angka di layar melompat-lompat setiap kali kucing bergerak. Karpet juga menyimpan bulu, dan bulu yang menempel di kaki timbangan memang tidak menambah berat siapa pun, tapi cukup untuk mengganggu bacaan.
Jamnya juga begitu. Saya selalu menimbang sebelum makan pagi, setelah dia pipis atau berak, karena perut penuh dan air minum bisa menambah berat yang tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan. Kalau saya menimbang sekali sebelum makan dan sekali setelah makan, dua angka itu bisa bercerita hal yang sangat berbeda, padahal kucingnya sama.
Untuk anak kucing di bawah enam bulan, sekali seminggu sudah cukup. Kalau ada yang membuat saya tidak tenang, saya naikkan jadi dua kali seminggu. Yang saya hindari adalah menimbang setiap hari. Pertambahan harian seekor anak kucing lebih kecil daripada selisih yang muncul hanya karena dia bergerak, karena bulunya basah, atau karena timbangan rumah tangga memang punya toleransi sendiri. Menimbang tiap hari bukan menambah informasi, cuma menambah detak jantung.
Dua cara menimbang dengan alat yang ada di rumah
Kalau punya timbangan dapur digital, cara paling gampang adalah menaruh wadah di atasnya, tekan tombol tare supaya angka kembali nol, baru masukkan kucing. Wadahnya tidak perlu mahal: keranjang plastik, kotak kardus dangkal, atau baskom lebar yang dasarnya tidak licin. Lapisi dengan kain yang berbau rumah supaya dia tidak langsung melompat keluar.
Kalau kucingnya gelisah, jangan ditahan di wadah. Cara kedua: timbang diri sendiri dulu, lalu timbang diri sendiri sambil menggendongnya, dan kurangi. Lakukan dua sampai tiga kali, lalu pakai angka tengahnya, karena berat badan saya sendiri bisa berbeda setengah kilo hanya karena pakaian atau waktu buang air. Untuk anak kucing yang beratnya masih di bawah dua kilo, cara ini sebenarnya lebih kasar, jadi saya hanya pakai kalau cara pertama benar-benar tidak mungkin.
Ada satu kebiasaan kecil yang saya anggap penting: setelah angka muncul, saya meraba kucingnya sebelum dia sempat lari. Kalau tidak, saya akan menutup buku dengan angka saja, dan angka sendirian tidak pernah cukup.
Meraba itu bagian dari menimbang, bukan kegiatan terpisah
Ada tiga tempat yang saya raba setiap kali.
Tulang rusuk. Saya letakkan telapak tangan dengan jari-jari lurus, tekan pelan, dan rasakan. Pada kucing dewasa dengan kondisi ideal, rusuk terasa seperti punggung tangan saat mengepal: ada lapisan tipis di atas tulang, tapi tulangnya tetap bisa ditemukan tanpa menekan keras. Pada anak kucing, rusuk biasanya terasa sedikit lebih menonjol, karena lapisan lemaknya memang belum banyak dan badannya sedang dipakai untuk tumbuh. Jadi jangan menilai anak kucing dengan standar kucing dewasa; yang saya cari adalah perubahan dari minggu ke minggu, bukan kecocokan dengan patokan kucing lain.
Tulang belakang. Saya usap dari pangkal leher sampai ekor. Yang saya harapkan: tulangnya teraba sebagai rangkaian tonjolan yang jelas, tapi tidak tajam seperti sisir. Kalau ujung jari saya tersandung-sandung di setiap ruas, itu catatan tersendiri.
Pinggang, dilihat dari atas. Saya berdiri dan melihat kucing dari atas saat dia berdiri di lantai. Di belakang tulang rusuk terakhir seharusnya ada lekukan kecil ke dalam sebelum melebar ke pinggul. Kalau dari rusuk ke pinggul garisnya lurus seperti sosis, itu informasi. Kalau lekukannya terlalu dalam sampai terlihat seperti jam pasir, itu juga informasi.
Satu hal yang sering menyesatkan: perut anak kucing memang membulat dan agak menggantung, kadang terlihat buncit, terutama sebelum diobati cacing. Itu bukan lemak. Saya berhenti menilai kegemukan dari perut selama kucingnya masih kecil, karena hampir semua anak kucing kelihatan buncit.
Kalau kucingnya berbulu panjang
Pada kucing Persia atau domestik berbulu panjang, pinggang tidak akan pernah terlihat, dan kucing yang kurus pun bisa tampak gempal. Di situ rabaan jadi satu-satunya bacaan yang jujur. Saya meraba sedikit lebih dalam, dengan tekanan yang sama seperti pada kucing berbulu pendek, dan mencatat hasilnya dengan kata-kata yang sama setiap minggu supaya bisa dibandingkan.
Angka dan kondisi harus ditulis berdampingan
Ini bagian yang paling sering dilewatkan orang. Berat 1,7 kg dengan catatan "rusuk teraba jelas, pinggang terlihat, aktif" bercerita sangat berbeda dari 1,7 kg dengan catatan "rusuk teraba jelas, pinggang hilang, perut membulat". Angkanya sama, arahnya berlawanan. Kalau saya hanya mencatat angka, saya akan mengira semuanya diam di tempat, padahal yang terjadi adalah berat tertahan sementara bentuk badannya berubah.
Sebaliknya, berat yang naik pelan sambil kondisi tubuh membaik adalah kabar bagus yang tidak akan pernah terlihat kalau saya cuma menimbang sekali lalu menutup bukunya.
Cara mencatatnya sederhana. Satu baris per minggu: tanggal, berat, beberapa kata tentang rabaan, dan satu frasa pendek tentang tingkahnya. Saya tidak pakai skor angka satu sampai sembilan, karena saya tidak pernah yakin skor saya konsisten dari minggu ke minggu. Kata-kata yang saya pilih sendiri justru lebih bisa dipercaya, karena yang saya bandingkan adalah catatan saya sendiri, bukan tabel milik orang lain.
Saat garis mulai mendatar, jangan langsung panik
Anak kucing tumbuh cepat di bulan-bulan pertama, lalu melambat, lalu garis di buku saya mulai mendatar. Pada kucing domestik, itu biasanya terjadi di sekitar usia sembilan sampai dua belas bulan; ras dan jenis kelamin membuat waktunya berbeda-beda, dan kucing jantan umumnya berhenti di berat yang lebih tinggi. Garis yang mendatar di usia itu bukan tanda ada yang rusak. Itu tanda pertumbuhannya sudah hampir selesai.
Yang membuat saya mulai menelepon dokter hewan bukan garisnya yang datar, tapi gabungan dua hal: garisnya datar atau turun sambil kondisi tubuhnya ikut memburuk. Rusuk yang tadinya teraba jelas sekarang teraba tajam, tulang belakang mulai terasa seperti sisir, pinggang dari atas jadi terlalu dalam, atau kucingnya jadi kurang aktif dan bulunya kusam. Datar plus kondisi bagus adalah satu cerita; datar plus kondisi menurun adalah cerita lain, dan yang kedua itu urusan dokter hewan.
Perlu juga saya ingat bahwa kucing dewasa tidak benar-benar datar. Beratnya bergerak naik-turun beberapa puluh gram tergantung cuaca, nafsu makan, dan apakah dia baru saja buang air. Itu sebabnya saya tidak menimbang tiap hari dan tidak pernah menyimpulkan apa pun dari satu titik.
Tulis kejadiannya di sebelah angka
Ini kebiasaan yang menyelamatkan saya dari panik berulang. Setiap kali ada hal besar terjadi, saya tulis di baris minggu itu, bukan di halaman lain.
Beberapa kejadian yang selalu saya catat: steril atau kebiri, hari vaksin, hari minum obat cacing, ganti merek makanan, kucing sedang pilek atau tidak mau makan, musim hujan panjang, pindah rumah, atau ada kucing baru di rumah. Sesudah steril, misalnya, berat dan nafsu makan sering bergerak, dan tanpa catatan kecil di sebelahnya, tiga minggu kemudian saya akan menatap angka itu dan mengira ada penyakit, padahal yang terjadi cuma perubahan yang sebenarnya sudah saya lewatkan sendiri.
Catatan kejadian juga membuat percakapan dengan dokter hewan jadi jauh lebih pendek. Saya cukup membuka buku dan menunjukkan bahwa berat turun sejak minggu kejadian tertentu, bukan sejak kapan entah.
Kapan berhenti menimbang dan menelepon
Ada beberapa hal yang tidak saya tunggu sampai jelas di buku. Kalau beratnya benar-benar turun, saya menelepon. Kalau anak kucing di bawah enam bulan tidak bertambah selama beberapa minggu, saya menelepon. Kalau kondisi tubuhnya menurun walaupun angkanya diam, saya menelepon. Idealnya saya timbang ulang dua atau tiga hari kemudian untuk memastikan yang turun itu bukan sekadar salah baca, tapi jangan menunggu berminggu-minggu hanya untuk mendapat garis yang lebih panjang.
Yang saya bawa ke klinik: buku catatannya, kartu vaksin, dan kalau ada, foto kucingnya saat berdiri dari samping dan dari atas. Dengan itu, dokter hewan bisa menilai arah dan konteksnya, bukan sekadar satu angka di timbangan klinik yang diambil pada hari yang berbeda dari hari-hari saya menimbang di rumah.
Saya juga tidak pernah memutuskan sendiri dari angka. Timbangan rumah tangga punya toleransi, kucing yang bergerak bisa menggeser bacaan, dan penilaian kondisi tubuh tetap subjektif. Yang bisa saya lakukan dengan cukup yakin adalah menjaga cara menimbangnya tetap sama, mencatat rabaan saya, dan menyerahkan tafsirnya kepada yang memang berhak menafsir. Buku kecil di laci dapur itu tugasnya cuma satu: memastikan saya datang ke dokter hewan dengan cerita, bukan dengan tebakan.