Anak kucing indoor yang sehat cukup dimandikan setiap 4-6 minggu sekali, dan untuk banyak kucing berbulu pendek yang tidak pernah keluar rumah, jaraknya bahkan bisa lebih longgar dari itu. Angka tersebut bukan jadwal tetap, melainkan titik awal. Yang sebenarnya menentukan kapan ia perlu mandi adalah panjang bulunya, umurnya, apakah ia pernah menyentuh tanah di luar rumah, dan seberapa lembap ruangan tempat ia tinggal. Di iklim Indonesia yang berkelembapan tinggi hampir sepanjang tahun, mandi lebih sering dari itu justru lebih sering merugikan kulit daripada menolongnya: minyak alami di bulu terkikis, kulit jadi kering dan bersisik, lalu gatal yang muncul setelahnya sering disalahartikan sebagai tanda ia perlu mandi lagi.

Sabtu pagi, anak kucing saya berdiri di tepi wastafel dengan dua kaki depan menempel di keramik dingin, sementara saya menunggu air di ember kecil mencapai suhu punggung tangan. Bukan hangat, bukan dingin, suam-suam kuku. Selama tangan saya masih betah diam di dalamnya, air itu masih aman untuk dia. Sementara itu handuk yang saya gantung Kamis di belakang pintu masih terasa lembap di lipatannya. Suhu air dan handuk yang tak kunjung kering, dua hal itu adalah dua dari sedikit hal yang benar-benar menentukan di rumah ini.
Saya dulu orang yang menempelkan jadwal di dinding. Tanggal, kolom, tanda centang. Cara itu bertahan sampai kucing pertama saya berumur sekitar lima bulan dan saya sadar saya sudah dua kali memandikannya dalam sepuluh hari hanya karena memang tanggalnya. Bulunya tidak mengkilap lagi seperti sebelumnya. Yang saya pikir kerajinan, ternyata kelebihan.
Sejak itu saya berhenti berpatokan kalender dan mulai memeriksa empat hal, dengan urutan seperti ini.
Umur lebih dulu, sebelum yang lain
Anak kucing di bawah empat minggu tidak dimandikan sama sekali. Bukan karena airnya, tapi karena ia belum bisa menjaga suhu tubuhnya sendiri dengan baik dan bulunya belum cukup tebal untuk menahan dingin setelah basah. Yang saya lakukan di rentang usia itu hanya membersihkan bagian yang kotor dengan kain microfiber yang dibasahi air hangat lalu diperas sampai hampir kering, satu area kecil sekali waktu, lalu diusap lagi dengan kain kering.
Antara empat sampai delapan minggu, mandi sudah boleh, tapi singkat. Air tidak lebih tinggi dari dada, seluruh proses beberapa menit, ruangan tertutup dan tidak berangin, lalu langsung dikeringkan sampai benar-benar kering. Saya tidak pernah menunda pengeringan, karena bulu yang masih lembap setengah jam setelah mandi adalah jalan tercepat menuju masalah kulit.
Bulu panjang menambah pekerjaan sisir, bukan pekerjaan mandi
Ini yang paling sering saya lihat tertukar. Kucing berbulu panjang memang butuh perhatian lebih, tapi yang bertambah frekuensinya adalah disisir, bukan dimandikan. Masalah utama bulu panjang adalah gumpalan dan kotoran yang tersangkut di lapisan bawah, dan itu diselesaikan dengan sisir setiap hari, bukan dengan air lebih sering. Mandi justru bisa memperparah kalau bulunya tidak benar-benar kering dan tidak tersisir setelahnya, karena lapisan bawah yang lembap mudah menggumpal dan menyimpan bau.
Untuk kucing berbulu pendek, cukup sisir karet dua menit sehari. Kegunaannya bukan cuma mengangkat kotoran, tapi menyebarkan minyak alami dari kulit ke sepanjang bulu. Itu sebabnya kucing yang rajin disisir bisa tetap terlihat bersih meski jarang dimandikan.
Yang tidak pernah keluar rumah, dan yang kadang keluar
Kucing indoor murni hampir tidak pernah mengumpulkan kotoran dari luar. Yang menempel di bulunya adalah debu rumah, sisa makanannya sendiri, dan minyak dari kulitnya. Untuk yang seperti ini, 4-6 minggu sudah cukup, kadang bisa lebih longgar lagi.
Begitu ia punya akses keluar, walau hanya ke halaman dan hanya sebentar, hitungannya berubah. Debu jalanan, tanah, dan kemungkinan kutu masuk ke dalam perhitungan. Kucing yang keluar rumah perlu diperiksa lebih sering, terutama bagian perut dan pangkal ekor, dan jarak antar mandinya bisa jadi perlu lebih rapat. Bukan karena ia kucing yang lebih kotor, tapi karena yang ia bawa pulang memang lebih banyak.
Di iklim lembap, yang jadi masalah bukan airnya, tapi pengeringannya
Ini bagian yang paling jarang dibahas dan paling sering bikin masalah di rumah saya. Di ruangan tanpa pendingin udara, handuk yang digantung bisa masih terasa basah dua hari kemudian. Kalau handuk saja begitu, bayangkan bulu anak kucing yang tebalnya berlapis-lapis.
Yang saya lakukan: dua handuk microfiber. Yang pertama untuk menyerap air sebanyak mungkin dengan cara ditekan-tekan, bukan digosok. Yang kedua untuk mengelap sampai tidak ada lagi bagian yang terasa dingin dan lembap di tangan. Setelah itu barulah pengering rambut dengan setelan suhu paling rendah, dijaga jarak sekitar satu jengkal dari badan, sambil satu tangan saya terus berada di antara aliran udara dan kulitnya supaya saya bisa merasakan kalau ternyata terlalu panas. Setelah kering, saya tidak membiarkannya langsung tidur di lantai keramik atau di ruangan berpendingin.
Kalau pengeringan seperti itu tidak mungkin dilakukan malam itu, saya lebih memilih tidak memandikannya sama sekali dan hanya membersihkan sebagian. Kucing basah yang tidak kering sempurna lebih berisiko daripada kucing yang tidak mandi.
Tiga titik yang saya raba sebelum memutuskan
Sebelum memutuskan mandi penuh atau cukup kain basah, saya raba tiga tempat.
- Pangkal ekor, karena di situ minyak paling cepat terasa. Kalau ujung jari terasa berminyak setelah menyentuhnya, itu tanda kuat.
- Belakang telinga dan bagian atas kepala, tempat bau biasanya menempel lebih dulu.
- Dada dan bagian bawah perut, tempat sisa makanan dan air liur menumpuk.
Setelah itu saya cium ujung jari saya. Kalau yang tertinggal hanya bau debu, kain microfiber basah sudah cukup. Kalau ada bau yang menempel dan kulit terasa agak berminyak, itu tandanya sudah waktunya.
Tanda bulu sudah terlalu sering dimandi
Kalau setelah beberapa kali mandi bulunya justru terlihat kusam dan tidak memantulkan cahaya seperti sebelumnya, ada serpihan halus seperti butiran garam saat digosok, kulit di ketiak dan pangkal paha tampak kemerahan, dan ia lebih sering menggaruk, itu bukan tanda perlu lebih sering dimandikan. Itu tanda sebaliknya. Yang saya lakukan adalah mundurkan jadwal, bukan menambah sampo atau menggantinya dengan yang lain.
Kapan saya berhenti memutuskan sendiri
Ada satu kondisi di mana semua perhitungan di atas saya kesampingkan: kalau muncul kulit bersisik tebal, kerak, bulu rontok berpetak, luka bekas garukan, atau kutu yang tidak hilang setelah dibersihkan berulang. Begitu salah satu muncul, saya tidak menambah frekuensi mandi dan tidak mencari sampo khusus. Saya catat apa yang saya lihat, sejak kapan, dan di bagian mana, lalu catatan itu saya bawa ke dokter hewan. Kalau anak kucing sedang dalam pengobatan atau punya kondisi kulit, frekuensi mandinya ditentukan dokter, bukan oleh kebiasaan atau angka rata-rata.
Yang paling sering terlupakan setelah semua keputusan itu: pekerjaan terpanjang bukan memandikannya, tapi memastikan bulunya benar-benar kering sebelum ia tidur. Di rumah ini, itu selalu bagian yang paling lama.
